12/11/17

Tuan N #1 : Men in Uniform



”Nemu senior ospek yang ganteng gak? Tenang aja, doain aja aku bisa dikukuhkan jadi Muda Praja. Kalah itu senior-senior kamu sama aku,” tulis kamu di surat dengan tanda Semarang,  29 September 2017.


Fal, satu hal yang harus kamu tau; dengan atau tanpa seragam itu, I still love you.

Mungkin ada beberapa wanita yang secara terang-terangan menunjukkan bahwa mereka mencari taruna (atau sejenisnya) untuk menjadi pendamping. Tapi aku bukan mereka. Aku mendampingi kamu karena aku suka kamu, bukan karena seragam itu.

Dulu aku bahkan ngga suka loh cowok berseragam, soalnya kesannya mereka mengekslusifkan diri, terus sok keren banget deh ke mall pake seragam segala. Ternyata emang udah aturan ya, hahaha sok tau sih aku. Tapi kemudian sekolahku ada di lingkungan militer, teman-temanku banyak yang dibesarkan di keluarga militer, bahkan aku ikut kegiatan yang agak-agak militer juga. Hidupku berubah! ((ciaaaa)). Aku kenal kamu, kita dekat, lalu pacaran. Dan kamu sekarang bagian dari cowok-cowok yang dulu aku anggap sok keren itu.

18 Oktober 2017. Kita bertemu kembali setelah 2 bulan ngga ada komunikasi apa-apa. Aku bangga….. dengan diriku sendiri wkwk. Banyak hal yang terlewat tanpa kamu Fal. Rasanya aneh ngga ada yang aku ajak ngomong sebelum tidur, ngga ada yang tanya tadi ngapain aja, ngga ada yang ngajak nonton!! Itu sih ternyebelin, karena nonton sama temen kurang asyique. Di hari itu, untuk pertama kalinya, aku melihat kamu dengan seragam coklat itu, dengan ukuran pas badan, yang udah kamu impikan sejak lama. Dan juga dengan kepala botakmu itu, haha! Aku ngerasa awkward jalan di samping kamu, kok semacam kemakan omongan sendiri gitu ya? Hahaha. Udah mana jadi banyak yang ngeliatain, ngeliatain kamu sih, aku mah mana ada yang mau ngeliatin, huft. Tapi aku seneng banget di hari itu!

Lalu besoknya kamu balik lagi ke Lembah Manglayang, rumah kamu selama 4 tahun ke depan. Tapi kali ini kamu bawa alat komunikasi, yeay, meskipun illegal sih. Kamu beberapa kali telepon aku. Kadang harus diganggu sama temen-temen kamu, katanya salam dari mereka, tradisinya begitu katamu. Waktu itu bahkan ada yang mau kenalan ya? Hahaha, kaya siapa aja sih diajak kenalan segala. Hmm, kamu tau Fal, langit kamarku dan langit kamar kamu itu saksinya, bahwa kantuk kalah jauh dibanding rindu. Ngga peduli seberapa capek dan ngantuknya aku di malam itu, kalau ada telepon dari kamu, aku pasti langsung semangat lagi!

Fal, terimakasih untuk semuanya. Untuk usaha yang kamu berikan, untuk pengorbanan yang mungkin aku ngga tau apa aja, untuk sabarnya, untuk dukungannya, untuk waktu tidur kamu yang harus berkurang karena aku mau ditelepon. Cuma kamu yang dengan senang hati dengerin aku cerita ini-itu panjang lebar, dengerin aku marah-marah, nanggepin kerecehan aku (HEHE). You worth every miles and time!
I looooooove you, Masku!



Jakarta, 12 November 2017 - 11:23 pm 

Yours

16/04/16

hm?


Salah satu kekurangan gue adalah selalu berusaha untuk memaafkan, tapi kenyataannya gue ngga (akan) bisa untuk selalu memaafkan.

Memendam adalah pilihan gue, ketika orang yang gue sayang melakukan hal yang menyakiti gue. Gue sakit, tentu saja. Tapi ngga untuk mereka tahu. Gue mau, mereka—orang-orang yang gue sayang—taunya gue fine aja dengan yang mereka lakukan. Satu alasannya, gue ngga mau memberitahukan bahwa mereka menyakiti gue, adalah karena gue ngga mau mereka merasa bersalah karena telah melukai gue. Padahal gue melupakan satu hal, bahwa dengan gue melakukan hal tersebut, sama saja seperti gue menambahkan goresan luka yang sudah mereka buat.

Terdengar naïf ya? Tapi, ya itulah gue.

Kekurangan gue yang lain adalah meledakkan semua emosi gue ketika gue sudah terlalu lelah untuk memendam. Gue langsung meledak. Laksana gunung api memuntahkan semua isi perutnya. Gue langsung kacau. Gue emosian. Gue jadi super sensitive dengan segala hal. Gue jadi cengeng. Gue jadi menutup telinga gue atas semua nasihat orang terdekat, demi memenangkan ego gue sendiri. Jujur, gue ngga mau kaya gitu. Dengan meledak, biasanya gue jadi bikin orang-orang yang gue sayang ngerasa bersalah, which is itu malah lebih menyeramkan ketimbang mereka tahu kalau mereka menyakiit gue dari awal, kan?

Gue ingin semuanya baik-baik aja. Gue ingin semua di bawah kontrol gue. Gue ingin hidup yang happy ending kaya di fairy-tale. Gue sangat realistis, tapi gue juga sangat percaya pada keajaiban. Padahal, kedua hal tersebut (sangat) bertentangan. Hal-hal itulah yang mebentuk karakter gue yang suka “yuadahlah, mungkin mereka lagi ngga in a good mood, makanya mereka nyakitin gue” and act like everything is ok and nothing happened. Dan itu salah banget.




Jakarta, 16 April 2016 – 9.06 PM

-d-

06/04/16

Hellow!

Lagi galau nih ahahaha. Lagi capek akhir-akhir ini. lagi bosen. Lagi jenuh sama semua hal. Hhhh

Hmm.. gue pengen tanya, pernah ngga sih lo kemakan omongan lo sendiri?

Gue pernah. Dan gue mau cerita.

Duluuuu banget, waktu gue belum “memilih” untuk mengenal lebih dekat secara personal lawan jenis gue, gue ngerasa kalau gue ngga akan bisa nangis karena cowok. Konyol aja gitu menurut gue. Nangis karena cowok? Gak. Gak akan. Iya, gue emang sekeras kepala itu hahaha. Karena yaa, cowok banyak kali. Ngapain pake nangisin cowok yang jelas-jelas udah nyakitin hati sih? Jadi, kalau pada saat itu ada yng curhat bahkan nangis di depan gue secara langsung karena cowok, gue akan bingung. Gue mau marah karena dia udah sia-sia buang air mata buat cowok yang udah nyakitin, tapi di sisi lain empati gue termasuk tinggi, gue gampang iba. Jadi ya antara batin dan otak gue kayak perang gitu deh, dan gue jadi bingung.

Tapi.. setelah gue mau membuka diri untuk mengenal lebih jauh para cowok ini (kaya udah “fine” ketika ada yang ngasih sinyak pdkt, dsb nya ya, bukan sekedar kenal dan berteman) gue jadi malu pernah ngomong kalau gue ngga akan nangis karena cowok. Hehehehe. Btw, gue abis nangis nih, mata guepun masih berat tapi untungnya sih ngga bengkak ya, jadi gue ga perlu takut buat keluar kamar HAHAHA.

Gue nangis barusan. Karena cowok. Karena pacar gue. Ngga, dia ngga nyakitin gue, ngga pernah malah (atau belum ya? Huft jangan deh). Tapi gue nangis karena.. karena diri gue sendiri. Gue ini super insecure dengan segala hal yang menyangkut pandangan orang terhadap gue. Gue mau selalu terlihat baik, gue mau selalu jadi anak manis, gue mau selalu perfect, gue ngga mau dinilai negative sama orang lain. Iya, gue tau gue salah, gue egois. Ngga akan ada orang yang sempurna di dunia ini. dan apalah gue, cewek jutek yang gampang banget baper ahahah pasti banyak yg ngga suka. Tapi, ya itulah gue. Si perfeksionis yang ngga mau keliatan “jelek”. Dan sifat gue itupun terbawa ke dalam hubungan gue dengan cowok gue ini. gue mau jadi cewek termanis yang dia kenal, gue mau jadi cewek termenyenangkan yang dia tau, gue mau gue adalah satu-satunya cewek yang dia lihat. Gue maunya begitu. Maka dari itu, gue sering takut berlebihan kalau suatu saat dia sadar gue ngga secantik temen-temen lesnya, gue ngga seasyik temen-temen di sekolah lamanya, dan yang paling gue takut, gue ngga sepengertian sahabat dia yang udah kenal dari zaman SD. Gue takut dia ngga liat gue lagi. gue nyiksa diri gue sendiri dengan pikiran-pikiran itu. gue bisa uring-uringan, bisa tiba-tiba ngerasa nyesek gitu ahahah, bisa nangis juga tiba-tiba. Pokoknya gue jadi super random deh.

Oh iya, gue belum pernah ngomong tentang ini ke dia. Gue ngerasa belum nemuin waktu yang tepat aja buat ngomong ini. banyak masalah yang lagi dia hadapin, dan kayanya gue egois banget deh kalau tiba-tiba ngomong panjang tentang apa yang gue rasa, belum lagi kalau pake nangis-nangisan wkwkwk. Mending dia mikirin masalah dia dulu, diselesaiin, baru gue coba cari waktu buat cerita soal apa yang gue rasa. Sstt, doain supaya gue berani ya, gue orangnya gengsian banget soalnya wkwkwk #TheTrueVirgo.

Hmm, dia bukan cowok pertama yang jadi alesan gue merelakan air mata gue turun sih, heeee. Tapi cowok yang sebelumnya, ngga sesering ini. Hm, mungkin juga karena cowok yang dulu ngga sampe jadi kali ya, jadi gue masih ngerasa gengsi buat nangisin cowok yang belum punya hubungan apa-apa sama gue hehehe.


Ok. Sekian curhat alay gak jelas ini.



Jakarta, 6 April 2016 – 10.18 PM

Masih dengan mata yang sembab,

-d-



P.s kalau kamu baca, maafin aku yang alay ini pake nulis di blog segala. Plis, jangan mikir macem-macem, kamu tau kan aku ini sukanya nulis hal-hal yang random? :b

22/03/16

Ini tentang aku, Si Pengamat Ulung. Si pemimpi yang memimpikan kamu, Si Kutu Butu, katanya.

Ini tentang kamu, laku-laki yang duduk di pojok kedai itu bersama setumpuk buku usang. Ditemani segelas kopi hitam yang sudah tidak lagi mengepul. Sesekali tangan kiri itu membenarkan posisi kacamata dengan bingkai berwarna coklat yang kamu kenakan.

Ini tentang hujan yang datang. Menyisakan embun di balik jendela kedai. Dengan suhu yang turun, menyisakan gemeletuk di antara gigi orang-orang.

Ini tentang fajar yang kembali datang menggantikan hujan yang sudah menemani semalaman. Semburat jingganya menghangatkan diriku; masih tetap di dalam kedai itu, mengamatimu.

Ini tentang waktu, ketika kamu dan aku lalu berpisah. Perpisahan kita abadi, begitu katamu. Entah apa maksudmu, aku tak paham. Aku hanya tahu, bahwa, dulu kita pernah ada, bersama. Hingga akhirnya kaca-kaca itu pecah, dan semua tak lagi sama. Kamu, Si Kutu Buku kemudian pergi dan menyisakan jejak-jejak kisah yang tak mungkin ku hapus.

Ini tentang… ah sudahlah, aku tak tahu ini tentang apa. Yang kutahu hanyalah, kau Si Kutu Buku yang betah duduk dengan setumpuk buku di pojok kedai kopi itu, dan aku, Si Pemimpi, yang betah duduk dari jauh untuk mengamatimu hingga fajar menjelang.





-d-

Jakarta, 22 Maret 2016 – 7.49 PM

15/03/16



Ketika Tuhan telah menuliskan cerita hidup umat-Nya, maka siapa yang bisa mengajukan diri untuk mengubah cerita tersebut?

Sekalipun mungkin kamu –dan aku, tidak bisa setuju dengan jalan ceritanya, Tuhan tetaplah Penulis cerita hidup terbaik di semesta.

Sekalipun aku tetap tak henti bertanya, kenapa aku yang Ia pilih untuk menjalankan peran di cerita ini. Maku belum ikhlas. Mungkin aku belum bisa terima. Apapun itu, kumohon Tuhan, buatlah aku untuk dapat menerima peran yang sudah Kau tetapkan.




-d-

Jakarta, 15 Maret 2016 – 12:08 AM