Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

21/09/13

Satu Tahun

Rasanya seperti mengorek luka lama yang hampir kering; sakit lagi, perih lagi. Itu yang aku rasakan. Tapi aku menikmatinya. Menikmati setiap detik saat scroll down di halaman profil twittermu, apalagi kalau bukan membaca tweet manismu yang kau alamatkan kepada dia --wanita yang kini menjadi penggantiku. Aku iri. Bukan, bukan kepadanya. Tapi kepadamu. Mengapa kamu begitu cepat melupakan aku dan berhasil bersama wanita lain? Sedangkan aku, sudah tepat satu tahun setelah kau memutuskan untuk pergi dari hidupku, aku masih tetap bertahan di sini, menunggumu. Rasanya aku seperti anak  kecil yang berdiri  di ambang pintu, menunggu hujan permen coklat datang. Mustahil. Aku tahu, menunggumu adalah hal yang sia-sia. Berkelut dengan rasa rindu yang tertahan. Merasakan pertarungan antara dua kubu dalam diriku, logikaku memaksa untuk melupakanmu, tetapi hatiku masih ingin bertahan. Otakku serasa mati. Tidak dapat menghentikan pertarungan tersebut.

Oh, dear. Aku hanya ini semua berakhir.

**

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kisah di masa lalu, yang seharusnya diposting pada 9 September kemarin, tapi karena ada kesalahan kecil jadi baru bisa dipost sekarang.

Salam,
Dinda

06/08/13

Bukan Salah Hujan



Banyak yang membenci hujan. Kata mereka, kalau hujan, mereka gak bisa kemana-mana, cuaca  jadi dingin, bikin malas beraktifitas. Dan alasan-alasan konyol lainnya. Menurutku, hujan itu indah. Hujan  itu  mengasyikkan. Aku bisa mendapat banayk inspirasi menulis  jika hujan datang. Aku suka hujan. Tapi, itu dulu tepatnya 1 tahun yang lalu.
            Aku masih ingat alasanku membenci hujan. Tepat ketika hari ulang  tahunku. Saat itu, Mama berjanji akan menjemputku dari sekolah, dan makan siang bersama di restauran favoritku, hari itu juga hari pengumuman lomba menulis cerpen yang aku ikuti. Tanpa disangka, hujan datang. Sangat deras. Aku menunggu Mama di lobby sekolah, aku mendadak gelisah. Sudah hampir 1 jam aku menunggu, tapi wajah Mama tak kunjung  terlihat. Aku berusaha tenang, tapi pikiranku melayang. Aku takut kalau-kalau  sesuatu buruk terjadi pada Mama.
            “Selamat siang, apa benar ini dengan saudari Nikita?” tiba-tiba handphoneku berdering, terdengar suara wanita di sebrang sana
            “Iya, saya sendiri. Maaf dengan siapa ya?” Tanyaku gugup
            “Saya dari Rumah Sakit Harapan. Baru saja, Ibu anda mengalami kecelakaan. Beliau tergelincir saat mengendarai motor, lalu terjatuh. Kepalanya cidera.”
            Aku tercengang dan terdiam. Dadaku sesak.
            “Mama……” Suaraku lirih.
            Rumah sakit tersebut memintaku untuk segera mendatangi rumah sakit itu. Tanpa pikir panjang, aku berlari menerobos hujan, mencari taksi untuk kutumpangi, dan berdoa untuk mama.
            Setelah sampai dirumah sakit dan menemukan ruang UGD, aku masih terus berdoa untuk mama. Tidak lama kemudian, dokter keluar dan memberitahu bahwa mama telah tiada. Aku merasa tubuhku menjadi ringan. Penglihatanku buram. Mataku memanas. Aku menangis, kemudian pingsan. Aku membenci hujan saat itu juga.
            Entah bagaimana, saat aku tersadar aku sudah di rumah, disampingku ada tante Tira yang tersenyum lembut, tapi matanya sembab. Aku bangkit.
            “Mama mana te? Mama baik-baik aja kan?”
            “Niki, kamu yang sabar ya, sayang. Kamu harus kuat. Bentar lagi Mama kamu mau dimakamkan.” Tante Tira berusaha tegar
            “Engga tante! Mama janji mau makan siang sama aku, ngerayain ulang tahun aku. mama juga janji mau beliin laptop baru kalo aku berhasil menangin lomba menulis cerpen. Gak mungkin mama ingkar janji!”
            Tante Tira memelukku, aku menangis dalam  pelukannya.
            Aku memeluk mama untuk yang terakhir kali. Aku cium pipinya, tubuhnya terasa kaku dan dingin. Belum pernah aku  merasakan dingin seperti itu. Aku mencoba ikhlas, namun tidak semudah itu.
            Aku ikut mengantarkan mama ke tempat peristirahatan terakhirnya. Selamat jalan, Mama, semoga mama tenang di sana, aku pasti akan rindu Mama.
            Sejak saat itu aku benci sekali dengan hujan. Aku juga jadi benci menulis, padahal ternyata aku memenangkan lomba menulis tersebut. Tapi aku tidak peduli. Aku benci hujan!
            Kemarin, guru bahasaku memintaku untuk mengikuti lomba menulis cerpen, beliau tahu bahwa aku suka menulis cerpen dan sering memenangkan lomba. Langsung saja kutolak. Aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan dunia itu.
            “Ayolah Niki, Ibu tahu bakat kamu dibidang menulis. Kalo kamu menang dilomba ini, kamu mendapat sertifikat dan bisa masuk di SMA manapun yang kamu mau.” Bu Reza, guru bahasaku, membujukku.
            Beliau sudah sangat sering membujukku. Aku jadi tidak tega menolakknya lagi. Kali ini aku mengiyakan permintaannya.
            Lomba itu diadakan seminggu lagi. Tema lomba itu adalah kehidupan di sekitar kita. Aku bingung ingin menulis apa.
            Setelah aku mengiyakan permintaan bu Reza, aku bergegas pulang. Aku pulang sendiri saat itu, aku menumpang angkot yang berada di depan sekolah. Saat sudah sampai di depan komplek rumahku, tiba-tiba turun hujan. Aku jadi ingat Mama.
            Saat angkot berhenti, dan aku ingin turun, tiba-tiba ada adik kecil berdiri di depan pintu angkot sambil membawa payung besar. Tubuhnya basah kuyup.
“Ojek payung kak?” tanyanya.
Entah mengapa aku mengiyakan pertanyaannya, padahal saat itu aku membawa payung di dalam tas sekolahku. Aku melihat senyumnya mengembang dan matanya berbinar.
            “Kamu gak sekolah?” aku memberanikan diri bertanya
            “Udah pulang kak” jawabnya ringan.
            “Oh, kelas berapa?” tanyaku lagi.
            “Kelas 4 kak.” Jawabnya sambil menyeka air hujan yang melewati matanya. Dia lalu menatapku.
            “Kok ngojek payung? Emang gak diomelin?”
            “Sebenernya gak boleh sama Bapak. Takut kesambar petir kaya Ibu. Tapi kalo gak ngojek payung, kasihan Bapak gak ada yang bantu cari uang,” jawabnya polos.
            “Ibu kesambar petir?” tanyaku mengulang
            “Iya, sekarang Ibu udah gak ada kak,” aku lihat, matanya berkaca-kaca. Ia lalu menunduk untuk beberapa saat. Aku jadi ingat mama. Aku dan anak itu sama-sama kehilangan orang yang disayang saat hujan turun.
            “Kalo hujan, aku jadi inget sama ibu kak. Jadi pengen nangis. Tapi kata Ibu, anak laki-laki gak boleh nagis.” Dia melanjutkan, senyumnya mengembang.
            “Kamu benar..” aku memegang pundaknya yang sudah basah oleh air hujan itu.
            “Ibu juga bilang, kita gak boleh nyalahin takdir. Makanya, waktu Ibu meninggal aku gak sedih lama-lama. Allah udah kangen sama Ibu.” Kata-kata itu bagai tamparan untukku. Aku sadar, bahwa kepergian Mama bukan karena hujan. Tapi karena takdir dari Sang Khalik.
            Tidak terasa sudah sampai di depan rumahku. Aku memberikan ongkos ojek payung kepadanya. Dia tersenyum dan mengucapkan terimakasih, lalu berlalu. Aku masih diam di teras rumah. Menatap hujan yang semakin deras. Aku jadi bersemangat untuk mengikuti lomba menulis cerpen itu. Aku tau apa yang akan kuceritakan nanti. Anak kecil si pengojek payung. Sepertinya ide yang pas. Ku tatap lagi hujan itu. Hujan memang selalu memberikan inspirasi untukku. Hujan, maafkan aku karena pernah membencimu.

*** 

Aku mau cerita sedikit tentang cerpen ini. Jadi, aku nulis cerpen ini untuk dimuat di Majalah sekolahku, Majalah Ekspresi 9. Aku nangis pas nulis bagian  Aku memeluk mama untuk yang terakhir kali. Aku cium pipinya, tubuhnya terasa kaku dan dingin. Belum pernah aku  merasakan dingin seperti itu. Aku mencoba ikhlas, namun tidak semudah itu. Aku langsung inget Mama. Naudzubillahimindzalik Ya Allah... Tapi beneran aku nangis. Perasaan langsung ga enak gitu. Besoknya pas di sekolah aku juga nangis. Malu banget nangis di sekolah >_< tapi gak bisa ditahan. Aku langsung kepikiran hal yang jelek-jelek. Ya Allah, jangan ambil orang-orang yang aku sayang dulu. Aku masih ingin bersama mereka..
Umur emang gak ada yang tau, teman-teman. So, jaga dan sayangilah orang-orang di sekitarmu, sebelum Allah memanggil mereka kembali kepadaNYA.



Salam,
Dinda :)

14/04/13

Menghitung Embun

Pagi yang sunyi dan damai. Ku buka jendela kamarku yang menghadap ke taman mungil disamping rumah. Indahnya. Semerbak wangi bunga dan bau tanah yang khas membuatku tersenyum. Andaikan aku bisa menikmati ini lebih lama. Melewati pagiku yang indah lebih lama. Bahagia sekali, ketika ku melihat bulir embun di dedaunan yang melabai pelan diterpa angin pagi. Menghitung satu persatu bulir itu. Rasanya seperti menghitung sisa umurku. Tuhan, berikan aku umur yang lebih panjang lagi, agar aku bisa terus merasakan pagi yang indah ini, dan menghitung embun pagi yang menyejukan itu.

(By: Dinda Nur Oktaviani; ditemani gerimis kecil diluar rumah. Cerita fiktif)

23/03/13

Aku Kangen Kakak

"Aku kangen kakak!"
"Kakak juga" balasnya
Huh, aku benci! Kanapa singkat sekali? Kenapa dia tidak bertanya aku sedang apa, mungkin? Berbeda dengan dulu, seluruh perhatiannya hanya untukku―sekarang perhatiannya untukku terbagi, dia sedang dekat dengan perempuan lain.

Aku bisa apa? Aku mencintai dia, nampaknya dia juga. Tapi, tak ada status antara kita. Mungkin banyak pertimbangan yang ia pikirkan. Usia mungkin? Atau iman kita yang berbeda? Entah. Aku haya bisa bertanya dalam hati. Dia pernah bilang, dia menyanyangiku, tapi sepertinya tidak mudah. Aku tidak berani bertanya mengapa tidak mudah. Aku takut, kalau-kalau jawabannya sama seperti yang ada dipikiranku―usia dan perbedaan iman.

Sekarang, dia sudah memilih. Perempuan itu. Jarak usia mereka tidak jauh, merekapun seiman. Saat dia memberitahu kabar itu, aku bingung. Aku harus senang atau sedih? Sekarang semua berubah. Dia tidak pernah memberikanku perhatian lagi―sekedar menyapa saja tidak. Aku takut kalau ingin menyapanya. Takut ia dan pasangannya menjadi salah paham.

Aku kangen kakak!

By: Dinda Oktavia

(Cerita fiktif, bukan pengalaman pribadi, ataupun pengalaman orang lain)

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES