Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

21/09/13

Satu Tahun

Rasanya seperti mengorek luka lama yang hampir kering; sakit lagi, perih lagi. Itu yang aku rasakan. Tapi aku menikmatinya. Menikmati setiap detik saat scroll down di halaman profil twittermu, apalagi kalau bukan membaca tweet manismu yang kau alamatkan kepada dia --wanita yang kini menjadi penggantiku. Aku iri. Bukan, bukan kepadanya. Tapi kepadamu. Mengapa kamu begitu cepat melupakan aku dan berhasil bersama wanita lain? Sedangkan aku, sudah tepat satu tahun setelah kau memutuskan untuk pergi dari hidupku, aku masih tetap bertahan di sini, menunggumu. Rasanya aku seperti anak  kecil yang berdiri  di ambang pintu, menunggu hujan permen coklat datang. Mustahil. Aku tahu, menunggumu adalah hal yang sia-sia. Berkelut dengan rasa rindu yang tertahan. Merasakan pertarungan antara dua kubu dalam diriku, logikaku memaksa untuk melupakanmu, tetapi hatiku masih ingin bertahan. Otakku serasa mati. Tidak dapat menghentikan pertarungan tersebut.

Oh, dear. Aku hanya ini semua berakhir.

**

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kisah di masa lalu, yang seharusnya diposting pada 9 September kemarin, tapi karena ada kesalahan kecil jadi baru bisa dipost sekarang.

Salam,
Dinda

26/06/13

Malaikat Juga Tahu...

Di sampingmu aku berdiri,
Aku memandangmu,
Aku mendambakanmu,

Tapi mengapa kau selalu memandang ke arahnya?
Selalu tersenyum untuknya?
Selalu mendambakannya?

Tidakkah kau lihat aku?
Aku yang berdiri di sampingmu
Aku yang menjadi tempat berkeluh-kesahmu
Aku yang sakit di sini, tapi kau tak mau tahu

Kau ingin dia di sini, menggantikan aku
Tapi kau bilang, kau tak sanggup tanpa aku
Jadi, apa maumu?
Ingin menbuatku hancur karna melihat kalian berdua di depan mataku sendiri?

Tidakkah kau merasa
Akulah yang nyata
Akulah yang mencintaimu
Bukan dia
Aku harus apa agar kau melihatku?

Silakan bandingkan,
Aku dan dia
Kau akan tahu,
Akulah juaranya

Malaikat juga tahu...

***

Tulisan ini terinspirasi oleh lagu Malaikat Juga Tahu (Dewi Lestari)

Salam,
Dinda :)

23/03/13

Aku Kangen Kakak

"Aku kangen kakak!"
"Kakak juga" balasnya
Huh, aku benci! Kanapa singkat sekali? Kenapa dia tidak bertanya aku sedang apa, mungkin? Berbeda dengan dulu, seluruh perhatiannya hanya untukku―sekarang perhatiannya untukku terbagi, dia sedang dekat dengan perempuan lain.

Aku bisa apa? Aku mencintai dia, nampaknya dia juga. Tapi, tak ada status antara kita. Mungkin banyak pertimbangan yang ia pikirkan. Usia mungkin? Atau iman kita yang berbeda? Entah. Aku haya bisa bertanya dalam hati. Dia pernah bilang, dia menyanyangiku, tapi sepertinya tidak mudah. Aku tidak berani bertanya mengapa tidak mudah. Aku takut, kalau-kalau jawabannya sama seperti yang ada dipikiranku―usia dan perbedaan iman.

Sekarang, dia sudah memilih. Perempuan itu. Jarak usia mereka tidak jauh, merekapun seiman. Saat dia memberitahu kabar itu, aku bingung. Aku harus senang atau sedih? Sekarang semua berubah. Dia tidak pernah memberikanku perhatian lagi―sekedar menyapa saja tidak. Aku takut kalau ingin menyapanya. Takut ia dan pasangannya menjadi salah paham.

Aku kangen kakak!

By: Dinda Oktavia

(Cerita fiktif, bukan pengalaman pribadi, ataupun pengalaman orang lain)

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES