06/06/15

Hidup Itu Pilihan


Hidup itu pilihan

Sama seperti saat aku dan kamu memilih untuk bersama di sini

Hidup itu pilihan

Sama seperti saat aku dan kamu memilih untuk berjuang di waktu itu

Hidup itu pilihan

Sama seperti ketika kamu memilih goyah, sedangkan aku (malah) memilih untuk bertambah kuat

Hidup itu pilihan

Sama seperti saat kamu memilih untuk pergi, meninggalkan aku dengan sejuta mimpi kita yang pernah kita rajut bersama



**

Aku masih ingat betul saat pertama aku melihatmu. Hari itu senior kita memanggilmu maju ke depan, mengatakan bahwa kamu cantik sekali dengan rambut bondolmu itu. Aku terpesona, meskipun aku seorang putri. Tapi aku melihat ada hal yang aneh di sorot matamu, terlihat berbeda.

Sampai pada akhirnya kita berada di satu pasukan, pasukan 8, kau ingat? Kita tidak pernah benar-benar mengenal, hanya saling tahu nama. Kau berada di shaf 1 banjar 2, sedangkan aku berada di shaf 2 banjar 3. Kau tahu? Aku dan putri-putri lainnya sangat ingin berada di posisi yang kau tempati. Menjadi pembawa baki pada upacara peringatan hari kemerdekaan, meskipun hanya di sekolah, tapi siapa yang tak ingin? Menjadi putri tercantik sampai-sampai harus memakai bulu mata palsu dan menjadi pusat perhatian dari seluruh peserta upacara pada saat itu.

Aku senang, kamu tetap bertahan sampai sejauh ini. meskipun pada akhirnya kamu sedikit menjauh dan lama-lama sangat jauh dari kami. Entah apa yang terjadi, karena kamu tidak pernah ingin membuka mulut dan menumpahkan segala ceritamu kepada kami.

Hingga tak terasa, sudah hampir satu tahun berlalu dari waktu pertama kali aku melihatmu. Kamu datang –dengan dipaksa, tentu saja—saat kami sedang memperjuangkan tanggung jawab kami. Namun, kamu datang hanya untuk mengutarakan pilihanmu, meninggalkan kami. Hei, apa yang ada di pikiranmu? Kita bersama selama satu tahun ini! kamu menjadi satu-satunya putri yang diberi kepercayaan untuk membawa papan kayu seberat hampir 4 kilogram yang dibalut kain beludru hitam dengan bordiran garuda berwarna emas, untuk meletakan bendera kebanggaan kita, merah putih itu. Semua putri ingin mendapatkan kepercayaan itu, termasuk aku.

Rasanya ingin marah, tapi siapa kami? Kami hanya “mantan” keluarga bagimu. Rasanya ingin menangis, tapi kami sadar, air mata ini sudah kering sejak lama, menangisi hatimu yang tak kunjung melunak untuk kami. Rasanya ingin memaki keluarga barumu, tapi kami sadar, mungkin memang di sana tempatmu, keluarga yang tepat untukmu. Sekali lagi, hidup itu pilihan.

Untuk temanku, teman kami, keluarga kami, percayalah, jauh di dalam hati kami, kami tetap sayang padamu, kami tempatmu kembali, karena kami keluargamu.





Tertanda,

(masih) keluargamu



**

Ditulis dengan berlinang air mata, bukan karena cengeng, tapi karena rasa kecewa yang teramat karena sudah dicampakkan padahal dia selalu diperjuangkan.

04/04/15


Pernah gak sih lo ngerasa bahwa dunia ini gak berpihak sama lo? Bahwa segala yang telah lo korbankan dan lo lakuin tetep salah? Ngerasa capek banget, dan gak tau harus berbuat apa lagi?

Hehehe, lebay ya? Ah apaansi baru juga kelas 10 udah sok-sokan capek sama hidup.

Jika tidak ada bahu untuk bersandar, masih ada tanah untuk bersujud

Well, kalimat di atas benar. Tapi, harus diingat juga, bahwa manusia adalah makhluk sosial. Mereka (amat) butuh orang lain untuk sekedar berbagi cerita. Untuk sekedar saling menguatkan. Untuk sekedar saling menghapus air mata. #anakIPSbanget.

Akhir-akhir ini hidup gue lagi unlucky banget. Masalah dateng bertubi-tubi. Gue sampe bingung, kok setiap cerita yang gue bagi, selalu tentang masalah ya? Kok hidup gue jadi gini? Gue selalu merasa udah berbuat yang terbaik. Gue selalu ngerasa udah jadi anak baik-baik. Tapi kok, endingnya (selalu) begini?

Semua kisah tuh happy ending. Jadi, kalo belom happy, ya berarti belom ending

Pertanyaan berdasarkan dua frasa di atas; jadi sampai kapan gue harus survive higga menemukan ending yang (katanya) happy itu?

Dimulai dari vonis dokter 9 Maret lalu. “Wah, iya nih, kamu skoliosis. 30 derajat,”. Kalian tahu? Gue udah nyiapin mental dan hati gue loh dari rumah, gue yakin gue siap dengan apapun vonis dokter nanti. Tapi nyatanya? Gue nangis saat itu juga, di depan dokter juga. kenapa nangis? Gue gak tau apa jawabannya. Mungkin (ternyata) hati dan mental gue belom siap? Atau karena (cepat atau lambat) gue harus pake brace selama 23 jam sehari? Atau mungkin perintah dokter untuk ninggalin paskib? Gue gak tau apa alasan pasti gue nangis saat itu. yang gue tau adalah, gue cacat seumur hidup. Gue akan sampai mati bersama my-lovely-backbone ini. Gue hampir marah sama Tuhan. Kenapa harus gue? Tapi, akhirnya gue sadar, bahwa inilah gue. Inilah Dinda Nur Oktaviani. Seperti inilah Tuhan menciptakan gue. Selama Skoliosis ‘bersahabat’ sama gue, gue akan tetap baik-baik aja.

Lalu muncul lagi masahal-masalah (yang keliatannya) kecil, tetapi mengambil tempat yang sangat besar di fikiran gue. Pernah ngerasa dikecewakan? Selalu nimbun kekecewaan lo sampai pada suatu hari mereka meledak dan lo Cuma bisa nangis tanpa bisa menjelaskan apa yang lo rasakan? Gue pernah.

Tapi, yaudahlah ya, gak perlu lagi diungkit-ungkit. Masalah kan emang datang untuk menguatkan kita. Tuhan gak akan pernah kasih masalah ke umat-Nya melebihi kemampuan umat-Nya. Jadi seberat apapun masalah di hidup gue, pasti ada jalannya.

Gue selalu merasa masalah gue ringan-ringan aja setiap gue masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan dimana ada sesosok pemilik mata itu, pemilik ide-ide cemerlang itu, pemilik senyuman itu, ya, ada dia. Dia selalu punya seribu-satu cara untuk bikin gue ketawa. Dia selalu bisa bikin gue percaya bahwa masalah-masalah itu gak bikin dunia gue gelap. Dia selalu bisa menghibur gue di saat gue ngerasa sangat suntuk, dan itu juga tanpa gue kasih tau. Mungkin kita sama-sama punya radar Neptunus sehingga bisa sama-sama terkoneksi gitu? Well, bisa aja. #maksa.

Yang dia lakuin biasa aja sebenernya. Dia gak berusaha untuk menggurui gue dengan berbagai nasihat. Gak berusaha menguatkan gue dengan berbagai kalimat motivasi. Dia menghibur gue dengan caranya. He always had his way to makes me smile (again). Dan satu lagi, he always makes me feel blessed.
He always he. Nobody can replace him.

Terimakasih,

Untukmu.

30/03/15

No title needed


Mau curhat nih. Pernah gak sih kalian tuh ngerasa sangat amat dikecewakan sama orang lain? Saat kalian udah mengorbankan banyak hal, bahkan perasaan kalian sendiri, tapi orang itu malah bodo-amat-emang-gue-pikirin? Dan ya, gue sedang ngerasain itu.

Gue sering banget kzl setiap mama gue cerita kalo beliau abis disakitin sama orang lain. Gue ngerasa gemes aja gitu, masa mama gue masih bisa sih bertahan dengan orang yang salah dan tetap ngejaga perasaan orang yang jelas-jelas nyakitin dia. Dan ternyata, gue punya sifat yang sama kaya mama gue itu. bertahan untuk orang yang salah.

Nope, gue gak lagi ngomong soal cinta, soal cowok, atau apalah itu. tapi ini tentang temen yang ewwwwwww gue benci banget!!!!

Gue selalu kasian sama dia. I mean, dia ‘gak bisa’ tanpa gue. Gak bisa dalam arti, yaaa gitu deh, terlalu rumit buat dijelasin.

Gue selalu gak enak buat ninggalin dia. Gue selalu berusaha untuk gak emosi di depan dia. Gue berusaha nyadarin dia secara halus. Tapi, gue gak bisa. Ups, buka gue yang gak bisa, tapi dia yang emang gak punya niat atau fikiran untuk berubah. Susah emang, buat ngedorong orang untuk jadi lebih baik, apalagi kalo emang dasarnya dia punya sifat ‘besar kepala’. Keras. Gak mau diatur. Manja. Lemah. Penakut.

Gue gak bilang dia gak ada kelebihan dan gue bisa segalanya. No! gue juga penakut kok, gue manja, gue keras kepala. Tapi gue masih punya otak yang Alhamdulillah gak konslet. Otak gue masih bisa ngendaliin emosi gue. Gue masih bisa berfikir panjang. Dan gue gak akan bolos sekolah dengan alasan sakit Cuma karena takut sama guru yang ngajar di hari itu.

HAHAHAHA. See you!!

19/10/14

I'm Back


Hallo, wie geht’s?
Aih, sudah berapa lama gak main ke sini? Kangen sekali dengan my-online-journal.
Ada kabar baru apa yang bisa kudengar? Rasanya terlalu lama kita gak berjumpa sampe jadi terasa a lil bit awkward gini :(
Terlalu sibuk dan sedikit ngerasa bosan nulis, jadi deh nelantarin ini blog beberapa bulan belakangan. Tapi kok ya rasa kangen terlalu kuat buat narik aku untuk nulis lagi di sini, so…. hallo aku kembali!

14/05/14

Selesai Sudah!

Haiiii!
Alhamdulillah, gue udah selesai UN. Kalo ditanya udah lega apa engga, hmm... bingung juga sih. Lega, karna salah satu "beban" udah hilang, tapi gak bener-bener lega sih, soalnya masih nunggu pengumuman tanggal 14 Juni nanti. Doain ya semua :))

UN gak sehorror yang gue bayangin. Biasa aja gitu, kaya lagi ngerjain soal-soal latihan aja. Entah gue harus panik atau malah seneng karena ngerasa biasa aja. Tapi, temen gue juga ngerasa hal yang sama seperti gue. Cuma ada hal yg bikin gue gemeteran pas UN. Gue dua kali ganti LJUN! Jadi pas UN hari ketiga, Rabu tanggal 7 Mei, mata pelajaran Bahasa Inggris, LJUN gue kotor gitu di kotak tanda tangannya. Gak kotor banget sih dan kata pengawas juga gak masalah, tapi gue minta ganti. Setelah digantii sama yang baru (beserta soalnya), gue langsung robek LJUN itu dari sampul soal, dan you know? LJUN-nya KESOBEK HAMPIR KENA BARCODE SOAL!!! OMG gue panik! Tangan gue gemeteran, tapi gue bengong dan blank harus ngapain. Gue istighfar tuh, berharap tuh LJUN balik seperti semua, tapi ya gak bisa. Akhirnya gue bilang ke pengawas, dia bilang "Hati-hati ya Nak. Yaudah ganti, tapi sama yang tadi bisanya." yaaa mau apa lagi, okedeh. Jadi sepertinya gue emang jodoh sama soal yang pertama hahahaha.

Terus juga saat UN hari kedua mata pelajaran matematika, gue udah tau bakal ada soal setara soal internasional, tapi gue gak tau soalnya bakal gimana. Dan saat gue berhadapan sama soal itu, jrengg.... gue bingung gimana. Tapi gue berusaha tenang dan mikir sambil berdoa. Gue inget kata admin akun @2014UNSMP, kalo soal internasional tadi bakal keliatan rumit, tapi sebenarnya mudah karna mengandalkan pengaplikasian teori yang kita dapat. Jadi, kaya praktek dari teori dan rumus-rumus matematika gitulah. Yaudah gue pake teori phytagoras aja tuh, 150^2 + 150^2, hasilnya banyak dan gue takut ga keburu waktunya kalo gue paksain buat hitung. Gue kira-kira aja hasilnya berapa, dan dengan memantapkan hati serta berdoa dulu *tsaah* gue pilih 212 sebagai jawaban gue. Dan ternyata (kemungkinan besar) jawabannya bener. Hihihi.

Ohiya soal hari pertama (gapapa ya, ceritanya mundur gini, hehe), jadi soalnya itu ada dua gitu. Yang bersampul sama yang tidak bersampul. Jadi agak riewuh gitu di ruangan gue. Lagian, please bok, ini hari pertama, ini UN SMP pelajaran bahasa Indonesia sekali seumur hidup, eh kok malah kacau gini. Huft. Denger-denger sih, katanya karna ada soal tentang Pak Jokowi di soal UN yang "sebenarnya". Tapi karena takut disangkut pautkan sama politik, diganti deh, dan malah bikin kacau. Grrr. Makanya, gue aja yang dijadiin tokoh di soal. Keistimewaan tokoh Dinda adalah? Hal yang patut diteladani dari tokoh Dinda adalah? Hahahaha (kemudian ditoyor sama orang se-Indonesia).

Dan tentang hari terakhir. Jadi di sekolah gue ada tradisi secara turun temurun, sehabis apel pagi, kita bakalan nyanyiin yel-yel biar semangat gitu. Kita dari kelas 91--98 bikin lingkaran besar di tengah lapangan, terus nyanyi-nyanyi deh tuh, tapi gue sama Muti, gak ikutan nyanyi. Kita cuma ikutan tepuk tangan, tapi sambil ngapalin irisan akar dan batang tanaman dikotil dan monokotil!! Hahaha betapa rajinnya kita berdua :") setelah nyanyinya selesai, kita semua menepi ke koridor lantai satu buat belajar lagi. Rajinkan kita? Yang lain mah mau UN gak belajar lagi, tapi kita yang tinggal beberapa menit mau memasuki ruangan UN aja masih belajar. Hahaha. Kita ngapalin rumus-rumus dan sebagainya pake singkatan-singkatan aneh gitu haha. Sampe Maria, salah satu bintang kelas bilang "Kita mah anak IPS, bukan IPA. Kita ngapalin rumus, bukan pahamin materi. Hahaa" bener juga sih dia. Banyak banget rumus-rumus "buatan" kita yang aneh; VIR, believe, kakiku robek-robek, macet, pt vit irit perut, suka miwol ebowol, dan masih banyak yang lainnya. Hihihi pasti saat-saat "menemukan" rumus baru kaya gitu bakalan sangat dikangenin deh :")

Gue juga mau ngucapin makasih buat salah satu my best partner selama kelas 9 ini, Mutia Rachmah. Kita (hampir) selalu sama-sama. Dari awal semester selalu satu kelompok, selalu berburu soal (tapi lebih sering dia sih), sholat bareng pas masa-masa pendalaman materi, selalu bahas soal-soal bareng, belajar bareng, konsul bareng sampe malem dan keujanan. Sampe curhat-curhatan soal doi di Neverland-nya kita ya Mut? Yah bentar lagi kita bakal pisah dong sama doi? Hahahahaha. Yaa semoga segala usaha kita terbayar dengan hasil UN yang biaa bikin kita nangis bahagia ya Mba Muti, aamiin.

Dan sekarang gue lagi nikmatin masa "bebas" gue. Tapi tetep berdoa supaya tanggal 14 Juni nanti, gue bisa dapet hasil yang baik, mari kita ucapkan aamiin.

Happy holiday!
Salam,
Dinda

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES