09/07/15

Jauh di sana, ada seseorang yang sedang kutunggu. Kutunggu kehadirannya. Kutunggu suaranya. Kutunggu hatinya.

Menunggu sampai lelah. Menunggu sampai jenuh. Menunggu sampai aku lupa bagaimana rasanya tidak menunggu.

Suatu hari, ada yang bertanya, mengapa aku tak menyampaikan rindu ini dan memulai untuk menemuinya terlebih dahulu. Lalu kujawab, bahwa setiap malam selalu kubisikan pesan rindu ini kepadanya. Kutitipkan pesan rindu ini kepada angin, yang kuharap dapat menerobos celah jendela kamar dan membisikan tepat di telinganya. Setiap malam kubisikan pesan rindu ini dalam doa panjangku. Berharap Tuhan menyampaikan kepadanya, langsung menuju hatinya. Setiap malam kubisikan pesan rindu ini kepada bintang. Berharap sinarnya dapat menangkap dan menyampaikan pesan ini.

Bukan hal yang mudah bagiku untuk mengatakan aku-rindu-kamu kepadanya. Rasa-rasa yang menerjang hatiku sungguh besar. Aku takut. Takut rasa rinduku tak terbalas. Aku takut. Takut dia membuang wajahnya dan mencampakan hatiku. Aku takut. Takut ketika harus menerima kanyataan bahwa aku tak ia rindukan—bahkan tak ia harapkan.
Lalu, harus bagaimana? Harus melakukan apa?

Aku hanya tinggal menunggu bisikan rinduku sampai kepadanya, walaupun aku tahu, meski ia menerima bisikan itu, ia tetap tidak akan melihat kepadaku.





**



Well, gue ngga ngerti kenapa gue ‘produktif’ banget akhir-akhir ini, maksudnya jadi sering nulis gitu. Gue jadi kangen banget nulis. Meskipun tulisan gue dari waktu-ke waktu ngga mengalami peningkatan yang positif sih. Hahah. Tapi gue menikmatinya. Tulisan gue kadang ngga ada korelasinya dengan kehidupan gue. Gue nulis galau kaya tulisan di atas, bukan berarti gue lagi galau di kehidupan nyata. Gue happy. Hidup gue rasanya makin baik aja. Entah itu beneran atau karena gue yang mencoba untuk berpikiran positif sekarang. Gue emang belum melewati masa-masa berada di titik terendah dalam hidup, tapi masalah-masalah-masalah gue yang kemarin-kemarin cukup membuat gue lebih kuat buat menjalani hidup. Deuuh mancay banget kan bahasa gue.



Oh iya, mau ngucapin selamat puasa buat kamu yang dulu sering main ke blog ini. Semoga masih sering main ke sini ya dan membaca ucapanku ini ya!

Selamat puasa juga buat kamu yang akhir-akhir ini nemenin aku sampai aku ketiduran. Makasih buat ucapan selamat-sahur dan selamat-berbukanya!






Jakarta, 6 Juli 2015 – 8:19 PM

Dinda

03/07/15

Cerita Si Agen Rahasia


Nus, semalam dia datang kepadaku. Mengatakan sesuatu hal yang sangat kubenci. Sesuatu yang tak pernah ingin kudengar dari siapapun, terlebih dari mulutnya. Setelah perjalanan panjang yang pernah kita bangun, ia memutuskan mundur. Ia memutuskan pergi. Ia meninggalkanku bersama segala harapan yang pernah kita mimpikan bersama. Ia pergi, Nus.

Aku ingin marah kepadanya. Ingin kutampar pipinya. Ingin kucaci di depan wajahnya. Ingin kuceritakan kembali segala cerita yang pernah kita jalani bersama. Segala duka yang pernah kita bagi bersama. Segala cita yang pernah kita raih bersama. Aku ingin, Nus.

Tapi kemudian, aku tersadar. Aku mungkin bukan yang ia ingin. Aku mungkin bukan yang ia cari selama ini. aku mungkin bukan rumah yang ingin ia tempati. Aku mungkin hanya persinggahan sesaat, sebelum ia berhasil menemukan rumahnya yang sesungguhnya. Aku sadar, Nus.

Akhirnya aku diam, Nus. Aku tak meraung memintanya untuk tetap di sini. Aku tidak juga dengan muak mengusirnya. Aku membiarkannya mengatakan itu. Membiarkan diriku mendengar kalimat perpisahan dari mulutnya. Bukan aku tidak ingin memintanya untuk tetap tinggal, Nus. Aku.. aku hanya sangat lelah memintanya untuk tetap tinggal. Sudah habis rasanya kesabaranku untuk melunakan hatinya yang kini sekeras batu.



**


Teruntuk temanku yang memilih pergi,

Aku harap kamu membaca tulisan ini. Tulisan ini tentang kamu, kamu yang akhirnya menyerah dan memilih pergi. Kamu yang selama ini tidak mau membagi cerita itu kepadaku. Kamu yang selama ini selalu kuperjuangkan. Kamu yang selama ini aku sayang. Kamu yang selama satu tahun terakhir ini menemani perjalananku.

Percayalah, aku tempatmu kembali. Kubuka selalu lenganku untuk kembali memelukmu. Kubuka selalu hatiku untuk kembali kauisi. Kubuka selalu rumah ini untuk kembali kauhuni. Percayalah, kamu akan selalu menjadi bagian dari hidupku.

Dan untuk temanku yang (masih) bertahan,

Percayalah, kita bisa terus menjaga rumah ini. Kita bisa menjadi tim yang tangguh untuk membangun kembali semuanya. Kita keluarga, bukan begitu?

Untuk siapapun yang membaca ini,

Yakinkanlah dirimu sebelum mengambil suatu keputusan. Kalian tidak akan tahu ada berapa hati yang patah ketika kalian memilih untuk keluar dari keputusan yang telah kalian pilih di masa lalu.








Jakarta, 3 Juli 2015 – 8:48 PM

Dinda

28/06/15

Patah

Ku sampaikan sapaan hangat dan kau membalas sama hangatnya

Ku tuliskan pengharapan dan kau mengabulkannya

Ku mulai percakapan itu dan kau menemani hingga larut

Ku panjatkan doa dalam sembahyangku dan kau membuatku percaya, kau lakukan itu juga

Namun, sadarlah aku kemudian, kau lakukan itu tidak hanya kepadaku

Tidak ada lagi segala sapaan hangat itu

Patahlah segala pengharapanku

Hilang sudah percakapan panjang itu

Aku menyerah

Mengalahkan segala inginku yang sedari awal sudah salah

Sedari awal aku menginginkanmu; kamu

Aku telah jatuh, dan Tuhan kembali mematahkan hatiku

Bukan, ini bukan salah Tuhan, salahmu, atau keadaan

Ini salahku, yang selalu menjatuhkan diri sejatuh-jatuhnya hingga kebal tulangku terhadap sakit itu

Hingga kering air mataku menahan perih dari luka itu

Hingga hilang akal sehatku dalam melihat dunia

Aku ingin bangkit—sangat ingin

Namun bagaimana caranya? Bagaimana bisa aku melawan hatiku yang telah memilih kamu dan bertahan di sini

Datanglah, sekali ini kumohon, datanglah

Ulurkan tanganmu untukku, bantu aku bangkit

Hapus air mataku

Bantu aku menemukan hidupku kembali

Bantu aku mendapatkan cahaya itu lagi

Aku ingin keluar dari kegelapan ini

Setelah itu, kaubebas pergi

Pergi bersama yang lain

Pergi sejauh manapun yang kauingin

Lupakan segala sapaan yang pernah kita tukar

Percakapan panjang yang pernah kita buat

Harapan yang pernah kuucapkan kepadamu

Damailah dengan hidup barumu

Akan kubangun pula hidup baruku

Dan untuk-Mu Tuhan, jangan Kau jatuhkan aku lagi kepada yang mahir mematahkan

 



Jakarta, 28 Juni 2015 – 3:24

Dinda

24/06/15

Gue Mau


I want to


Please..


**


Pernah pada suatu hari, seseorang mengirimkan foto itu kepada gue. “Gue selalu jadi tempat dia cerita Din. Selalu.” Begitu katanya. “Bagus dong?” jawab gue. “Andai dia seperti itu,” gue melanjutkan. “Dia (cowok itu—red) selalu cerita ke Luna* (sahabatnya—red)”. “Gue mau jadi Luna. Gue mau jadi tempat dia untuk cerita. Cerita apapun, kapanpun.” Jawabku. “Jadi?” tanyanya. “Gue iri sama Luna…”

Salah gak sih iri sama sahabat dari seseorang yang kita sayang? Like seriously, gue mau ada di posisi dia. Gue mau jadi yang pertama yang dia cari saat dia punya masalah. Gue mau jadi yang pertama yang tau kalo dia lagi happy. Gue mau jadi yang pertama menghapus air matanya saat dia lagi nangis. Gue mau jadi yang pertama memberi ucapan selamat ketika dia berhasil mewujudkan mimpinya. Gue mau. Terdengar egois ya? Tapi itu yang gue mau.



**

*nama disamarkan





Jakarta, 10 Juni 2015 – 11:49,

Dinda

06/06/15

Hidup Itu Pilihan


Hidup itu pilihan

Sama seperti saat aku dan kamu memilih untuk bersama di sini

Hidup itu pilihan

Sama seperti saat aku dan kamu memilih untuk berjuang di waktu itu

Hidup itu pilihan

Sama seperti ketika kamu memilih goyah, sedangkan aku (malah) memilih untuk bertambah kuat

Hidup itu pilihan

Sama seperti saat kamu memilih untuk pergi, meninggalkan aku dengan sejuta mimpi kita yang pernah kita rajut bersama



**

Aku masih ingat betul saat pertama aku melihatmu. Hari itu senior kita memanggilmu maju ke depan, mengatakan bahwa kamu cantik sekali dengan rambut bondolmu itu. Aku terpesona, meskipun aku seorang putri. Tapi aku melihat ada hal yang aneh di sorot matamu, terlihat berbeda.

Sampai pada akhirnya kita berada di satu pasukan, pasukan 8, kau ingat? Kita tidak pernah benar-benar mengenal, hanya saling tahu nama. Kau berada di shaf 1 banjar 2, sedangkan aku berada di shaf 2 banjar 3. Kau tahu? Aku dan putri-putri lainnya sangat ingin berada di posisi yang kau tempati. Menjadi pembawa baki pada upacara peringatan hari kemerdekaan, meskipun hanya di sekolah, tapi siapa yang tak ingin? Menjadi putri tercantik sampai-sampai harus memakai bulu mata palsu dan menjadi pusat perhatian dari seluruh peserta upacara pada saat itu.

Aku senang, kamu tetap bertahan sampai sejauh ini. meskipun pada akhirnya kamu sedikit menjauh dan lama-lama sangat jauh dari kami. Entah apa yang terjadi, karena kamu tidak pernah ingin membuka mulut dan menumpahkan segala ceritamu kepada kami.

Hingga tak terasa, sudah hampir satu tahun berlalu dari waktu pertama kali aku melihatmu. Kamu datang –dengan dipaksa, tentu saja—saat kami sedang memperjuangkan tanggung jawab kami. Namun, kamu datang hanya untuk mengutarakan pilihanmu, meninggalkan kami. Hei, apa yang ada di pikiranmu? Kita bersama selama satu tahun ini! kamu menjadi satu-satunya putri yang diberi kepercayaan untuk membawa papan kayu seberat hampir 4 kilogram yang dibalut kain beludru hitam dengan bordiran garuda berwarna emas, untuk meletakan bendera kebanggaan kita, merah putih itu. Semua putri ingin mendapatkan kepercayaan itu, termasuk aku.

Rasanya ingin marah, tapi siapa kami? Kami hanya “mantan” keluarga bagimu. Rasanya ingin menangis, tapi kami sadar, air mata ini sudah kering sejak lama, menangisi hatimu yang tak kunjung melunak untuk kami. Rasanya ingin memaki keluarga barumu, tapi kami sadar, mungkin memang di sana tempatmu, keluarga yang tepat untukmu. Sekali lagi, hidup itu pilihan.

Untuk temanku, teman kami, keluarga kami, percayalah, jauh di dalam hati kami, kami tetap sayang padamu, kami tempatmu kembali, karena kami keluargamu.





Tertanda,

(masih) keluargamu



**

Ditulis dengan berlinang air mata, bukan karena cengeng, tapi karena rasa kecewa yang teramat karena sudah dicampakkan padahal dia selalu diperjuangkan.
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES