02/03/19

Men in Uniform #4: Over

Men in Uniform edisi 4. Edisi terakhir. Wow, ngga nyangka sesingkat ini. Pft.

Semesta memang lucu. Semua hal dengan mudah diobrak-abrik, termasuk hati. Hampir setahun yang lalu gue nulis soal kekecewaan gue terhadap subjek di tulisan ini. Kekecewaan yang awalnya kecil dan sering kali kami abaikan, tetapi lama-lama membesar dan mulai ngga bisa gue tolerir lagi. Semua pun berubah, baik gue pun dia. Kami menjadi dua orang yang sangat berbeda. UI dan IPDN lah yang membuat kami berbeda. Lingkungan, teman, dosen, kegiatan, kesibukan, semua memengaruhi. Kami kaya udah ga kenal lagi satu sama lain. Ya, inilah hidup. Setiap naik satu level, pasti ada yang harus berubah, biar tetap survive. Katanya.

Dia salah, pun gue juga pasti ada salah. Entahlah. Kami terus saling menyakiti untuk satu semester terakhir. Bikin gue mikir "kok gini amat sih pacaran". Gue bertahan untuk alasan klise yang gue tau itu ngga seharusnya jadi sebuah alasan. Gue menyakiti diri gue sendiri.

Ini berat buat gue, jujur aja. Ya menurut situ aja deh, putus dari hubungan yang udah menahun, mana ada yang mudah? Hahaha. Mungkin, bukan putusnya yang bikin gue hancur. Tapi proses putusnya. Gimana ngerasain dibuang layaknya sampah. Bener-bener tanpa sepatah kata penjelasan saat itu juga, pun sekedar kata "Ya". Gue benar-benar merasa rendah diri. Apa gue sebegitu ngga berharganya sampai-sampai ketika bilang putus pun dia ngga peduli? Sebegitu udah ngga sayang ya?

Gue dibilang bodoh sama orang-orang terdekat gue ketika bilang abis minta si subjek buat kasih penjelasan. Tapi, entahlah, gue kaya yakin aja dia bakal kasih penejelasan. Iya bener loh, kita akhirnya ketemu. Tapi entah kenapa gue merasa belum puas. Gue merasa masih ada yang ditutupi, gue merasa belum selesai. Masih mengganjal dan bener-bener mengganggu.

Tapi.. gue bisa apa? Yaudah. Terima aja. Berharap semesta bantu gue untuk bangkit lagi, untuk yakinin bahwa gue berharga, untuk yakinin gue bahwa ini keputusan terbaik.

Mungkin bukan tentang siapa yang salah, atau siapa yang paling tersakiti. Tapi ini tentang individu. Jarak boleh ada, tetapi ketika individunya masih ingin berjuang, tidak ada yang tidak mungkin. Pun dengan waktu, mungkin, singkatnya, ini lah waktunya untuk berpisah. Udah waktunya untuk kembali berjarak, seperti 3,5 tahun yang lalu.

Gue bahagia atas semua yang sudah lalu. Pun dengan yang membuat luka, gue bahagia. Karena semua itu yang membentuk gue sekarang. Memang belum sebegitu kuat, tapi gue hari ini jauh lebih kuat dari gue yang kemarin.

Dan,
Benar kata Mama, gue ngga boleh takut dan terpuruk karena kehilangan satu orang. Disuruh percaya aja kalau bakal dikasih ganti sama Allah. Ngga sampe satu bulan, Allah udah kasih gantinya loh. Ngga tanggung-tanggung, langsung 7 orang sekaligus! Penggantinya bukan dalam sosok pacar, tapi teman-teman yang akan mendampingi gue di kepengurusan tahun ini. Bismillah.


Ditulis di Jakarta, dalam kamar kecil gue, yang pernah dipakai si subjek sholat. Ditulis bersambung pada tanggal 17 Februari dan 3 Maret 2019.
2.26 AM

17/02/19

Takdir

Ada banyak hal yang bisa kita perjuangkan, kecuali takdir.

Lahir dari keluarga siapa, lahir sebagai anaknya siapa, lahir sebagai suku apa, lahir dengan warna kulit apa, bahkan lahir sebagai laki-laki atau perempuan juga tidak ada yang bisa memilih, kan?

Lalu, sampai pada suatu hari kamu sadar bahwa hal tersebut akan sangat berpengaruh ke dalam hidup kamu. Naif ya kedengerannya, tapi ya ini lah hidup.

Ya, kita bisa "mengubah" takdir, dengan berusaha. Tapi.. tetap, akan ada hal-hal di luar batas dan kita ngga bisa mengubahnya. Ini lah hidup.

Takdir pun yang membawa kita ke dalam lingkungan kita. Hidup di mana, siapa teman kita, seperti apa lingkungan kita, hal-hal seperti itu. Termasuk dengan siapa kita akan menghabiskan sisa hidup.

Mungkin sudah saatnya kita mencari orang yang bisa menerima kita dengan segala takdir yang mengikutinya. Orang yang tidak akan pernah membuatmu menyesal terlahir sebagai diri kamu. Orang yang membuat kamu bangga menjadi kamu. Orang yang membuat kamu merasa berharga dan bahagia.

Selamat mencari!

Jakarta, 17 Februari 2019
19.07

07/03/18

Obsesi?

pernah pada suatu hari aku membaca sebuah tulisan. isi nya kurang lebih tentang sebuah hubungan yang sebenarnya bukan lagi dilandasi oleh rasa cinta, melaikan rasa "sayang". Sayang? Iya, "sayang, ah, kalo putus, udah jalan 2 tahun nih" atau "sayang kalo putus, orang tuaku udah sreg sama dia" and so on.

aku sempat berpikir bahwa, hei, hal tersebut ngga ada apa-apanya dibanding rasa dicintai, diperjuangkan, dan yang paling penting yaitu rasa nyaman.

tulisan itu berlalu begitu saja tanpa membekas di pikiranku lama-lama.

hingga suatu hari aku tersadar, apa jangan-jangan sekarang aku sedang berada di posisi itu?

aku berpikir, apa iya?

aku mencoba melihat ke sisi lain, sisi dimana aku merasa begitu dicintai dan diperjuangkan oleh dia. lalu sisi ketika aku merasa begitu diabaikan pun muncul. silih berganti. aku merasa bukan lagi prioritasnya. bukan, bukan berarti aku ingin selalu dinomor satukan, tidak. aku mengerti bahwa ia memiliki mimpi yang harus dikejar, tanggung jawab yang harus ia jalani, keluarga yang menggunya pulang, hingga teman yang menginginkan berjumpa. pun denganku.

tapi bila seseorang masuk ke dalam prioritasmu, bukankah selalu ada waktu yang bisa diluangkan? sekadar telepon untuk 15 menit?

dia bilang aku ngga boleh cengeng cuma karena cinta. dengar aku, aku tidak cengeng! apa salah aku menangis karena merasa dikecewakan? merasa diabaikan? ketika disakiti?

kadang aku merasa bahwa, aku terobsesi. terobsesi oleh dirinya yang terkadang terlihat begitu sempurna di mataku. tapi kadang pula, aku merasa benci. mengapa aku mencintai dirinya. sebegitu besarnya.

jika ada pertanyaan dari Tuhan tentang apa yang aku inginkan, aku ingin meminta untuk berhenti terobsesi dan mencintainya begitu dalam. cukup mencintai sedikit, atau biarkan menipis setiap harinya. hingga hilang dan aku bisa lupa. berhenti dulu untuk mencintai seseorang, mungkin?


Depok, 7 maret 2018 9:59 a.m
--ditulis di sela-sela kelas MPKTB

05/02/18

Tuan N #3 : Untitled

Halo, apa kabar? Sehat selalu ya pasti. Lagi apa sekarang? Lagi belajar ya, maaf kalo aku ganggu.
Hari ini hari pertama aku masuk kuliah. Aku udah tunggu hari ini dari lama. Kenapa? Soalnya aku bosen libur terus, di rumah doang pula. Aku seneng bisa ada kegiatan lagi, jadi ngga keinget kamu terus hehe. Tadi juga ada pengumuman staff BEM fakultas loh, dan aku lolos! Yeay, so happy. Semoga dengan bertambahnya kegiatanku di semester ini, bisa bikin aku "lupa" sama kamu ya! Jadi kamu ngga lagi denger rengekan atau sekedar ucapan "aku kangen" dari aku lagi.

Tapi, rasa senengnya aku tuh belum lengkap. Aku pingin deh cerita-cerita ke kamu, pamer kalo aku berhasil lolos. Tapi barusan kamu ditelepon kok langsung dimatiin begitu aja sih? Gak seru ya teleponan sama aku? Maaf ya, kalo akhir-akhir ini aku suka marah2 di telepon :( aku cuma kangen aja sama kamu. Kangen kamu tanya-tanya, kangen diceritain ini-itu. Intinya aku kangen bisa interaksi sama kamu.

Kalo aku boleh komentar, kok rasanya akhir-akhir ini kamu --dan hubungan kita-- jadi berubah ya? Iya, aku tau manusia itu dinamis, selalu berubah setiap harinya. Tapi aku belum siap untuk perubahan kamu. Aku belum siap untuk menghadapi kamu yang "baru", kamu yang sekarang jadi lebih...... cuek? Hehe apa lah, banyak maunya ya aku! Pasti kamu kaya gini juga karena aku yg banyak nuntut ya? Maaf ya :(

Aku suka keinget deh dulu pas awal-awal pacaran. Dulu kamu cuek banget, huh sebel. Tapi kok aku bisa sabar yaa. Aku sedih deh ngga bisa sesabar dulu, gak bisa semaklum dulu. Dulu sering ditinggal ke Monas juga aku mah selow wae, tapi sekarang ga ditelepon sehari aja udah uring-uringan. Kamu tau ngga, waktu awal-awal kita LDR, aku tuh seneng banget karena kamu jadi jauh lebih perhatian, jadi lebih bisa memperlakukan aku dengan lebih baik deh, aku super happy! Ditambah pas cuti kita sering bareng-bareng yaa, wah aku seneng banget! Tapi begitu cuti selesai dan kamu balik lagi ke Nangor, aku ngerasa kamu berubah lagi :( rasanya kaya awal-awal kita pacaran dulu :( apa mungkin cuma perasaan aku aja kali ya?

Maaf ya, alay banget nulis di sini. Aku cuma pingin kamu baca dan kamu tau apa yang aku rasain. Karena aku gatau lagi harus nyampein ini lewat mana. Maunya sih lewat telepon, tapi setiap telepon pasti kamu ke-distract sama temen-temen kamu deh. Kadang aku ajak ngomong serius juga kamu nanggepinnya dengan ga semangat.

Sehat terus ya di sana, semoga selalu lancar semua kegiatan kamu. :)

Jakarta, 5 Februari 2018 | 11:24 pm

08/01/18

Tuan N #2 : Selamat Tidur, Tuan

Selamat datang, selamat kembali ke Ksatrian
Selamat kembali menjalankan hari-hari yang terjadwal rapi
Selamat kembali belajar dan mengenman amanat
Selamat kembali memasuki Menza, tiga kali sehari
Selamat kembali menyapa udara Jatinangor
Selamat kembali, selamat kembali, Tuan

Tidur yang nyenyak, berdoa, lalu bermimpi dengan indah
Jangan lupa bangun di sepertiga malam, lalu bersujud dalam keheningan, itu kan yang kau rindukan?
Jangan lupa telpon aku, maksudku kalau sempat, tenang saja aku tidak akan merengek lagi
Jangan lupa panaskan setrikaan setiap pagi, lalu menegaskan garis pakaian dinasmu

Sekali lagi,
Selamat tidur, Tuan


Jakarta, 6 Januari 2017 | 11.08 p.m
Dinda
--yang sudah rindu, padahal belum ada sehari ditinggal
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES