22/07/13

Cita (dan) Cita

"Jadi penulis itu gak ada uangnya. Gak ada masa depannya" -Mama

Jujur, waktu pertama kali gue denger itu, gue bener-bener ngerasa 'salah' memilih cita-cita. Gue sedih banget lah ya, cita-cita gue ditolak gitu. Terngiang-ngiang terus kalimat itu di otak gue. Sampai akhirnya, gue ngerasa itu tantangan buat gue. Gue harus bisa bikin Mama gue percaya kalo gue bisa! Lebih tepatnya, ngebuktiin ke Mama, kalo jadi penulis itu ada masa depannya. Ya, kalimat Mama gue itu, gue jadi motivasi.

Sebenernya waktu gue kecil, setiap ditanya soal cita-cita, gue ngejawab jadi Dokter. Cita-cita sejuta anak kecil itumah, hahaha. Ada kali 80% temen-temen SD gue yg 'cita-cita'nya jadi Dokter.

Dan sekitar kelas 3, gue nulis cerpen pertama gue. Waktu itu salah satu guru yang paling deket sama gue ultah, yaudah gue kasih aja cerpen itu buat beliau. Besoknya, beliau bilang cerpen gue bagus (Alhamdulillah). Entah itu serius atau hanya ingin bikin gue seneng doang. Tapi waktu itu, gue bangga banget! Ya, namanya juga anak kecil ya-_-
Mulai saat itu, cita-cita gue ada dua; Penulis dan Dokter.

Gue mulai sering nulis cerpen sejak saat itu. Pernah gue bawa cerpen buatan gue ke sekolah, dan teman-teman gue baca. Mereka nangis! Serius! Ada bekas air mata mereka di buku tulis, yang gue jadiin buku kumpulan cerpen karya gue.  Ceritanya emang sedih, tapi biasa aja menurut gue (sewaktu gue baca lagi ceritanya disaat umur gue sekarang). Tentang dua sahabat yang dekeeeet banget, tapi sahabat yang satunya sakit dan meninggal. Mungkin, next time bakal gue post di sini.

Waktu itu gue bener-bener yang seneng banget. Rasanya puas bisa ngeliat pembaca kebawa cerita, sampai nangis gitu. Terharu :")
Temen-temen bilang kalo gue cocok jadi penulis (aamiin) tapi itu berlebihan sih kalo menurut gue-_-
Yaa gue aamiin-in aja semua doa yang baik-baik.

Gue juga seneng banget, waktu puisi karya gue dipilih buat dibacakan saat acara pelepasan kelas 6 (saat itu gue kelas 4/5, lupa). Gue bareng Lia, temen gue yang membacakan puisi itu. Gue udah lupa isinya gimana, seinget gue tentang jasa seorang guru gitu. Saat tampil membacakan puisi buatan gue sendiri, rasanya gue bangga banget. Suara gue sampai bergetar (gue masih inget hehe) saat ngebacain. Walaupun yang dateng ke acara itu cuma keluarga dari kakak-kakak kelas gue, gue tetep ngerasa bangga :")

Gue juga histeris saat cerpen gue ada di majalah sekolah gue, Majalah Ekspresi 9. Sebenernya sih gampang buat masukin cerpen ke majalah, apa lagi gue termasuk redaksi majalah itu. Tapi teteplah ya seneng bukan main. Itu cerpen pertama gue yang dicetak di media. Dan (InsyAllah) dibaca banyak orang (siswa & guru di sekolah gue, SMPN 9 Jakarta). Oya, ada cerita di balik penulisan cerpen itu. Hmm nanti bakal gue post cerpen itu plus ceritanya :D (Update: baca cerpen gue di sini)

Sampai sekarang, cita-cita gue untuk menjadi Dokter telah 'gugur'. Gak tau juga sih, kenapa bisa gitu. Tapi menurut gue, jadi apapun nanti, entah 'ada' uangnya ataupun 'engga', tetap lakukan dengan hati, dengan sungguh-sungguh, dan ikhlas. Semua orang udah ada jalan dan rezekinya masing-masing. Dan pasti, apa yang Allah berikan untuk kita, adalah yang terbaik. Karena hanya Dia yang tau, apa yang terbaik untuk hambanya.

   Kejar dan raih cita-citamu

Calon penulis sukses,
Dinda

27/06/13

Perahu Kertas 2 Quotes

Sebelumnya aku udah pernah post quotes dari PK 1 yang super pendek hehe, bisa baca di sini. Dan kali ini mau ngepost quotes dari PK 2.
Enjoy :)

Dear, Neptunus. Taukah kamu kenapa kali ini aku mengarung perahu kertasku hingga ke tengah laut? Aku ingin perahu kertasku berlabuh. Aku sangat ingin hatiku berlabuh kemanapun itu -Kugy

Kamu udah bawa aku kabur sejauh ini loh, aku berhak tau jawabannya -Kugy

Setiap aku mau ngelukis, itu semua karna tulisan kamu. Kanvasku punya kehidupan lagi -Keenan

Kamu pernah bilang sama aku, kalo ombak suara alam yang paling merdu -Remi

Bukannya kalian berdua punya radar-radar yg bisa sama sama tau letak kalian dimana? -Noni

Dari dulu, kalo kamu cerita tentang temen kamu yang namanya Keenan itu Gy, mata kamu langsung bercahaya. Kamu tuh lebih hidup. Nyawa kamu kaya tiba-tiba nambah 2 aja -Kakaknya Kugy

Gy, ini tuh bukan dongeng, ya ini hidup. Hadapin, kamu harus berani. Berani jujur sama diri kamu sendiri, jujur sama orang yang kamu sayangin -Kakaknya Kugy

Gak semua dongeng bisa happy ending, apa lagi realitas -Kakaknya Kugy

Kugy Karmachamaleon, saya cinta, selalu cinta, dan akan terus cinta sama kamu -Keenan

Perasaan ini gak bakal ada habisnya, Gy -Keenan

KK itu Keenan dan Kugy -Keenan

Aku tau, kamu tau, hati ini jg tau, Gy, kalo kita milih yg terbaik -Keenan

Aku sakit kaya gini setiap ingat kamu -Kugy

Aku yakin kita bisa, Gy -Keenan

Aku pasrah, Nus. Seperti semua perahu kertas yg selama ini aku larung. Dia ga pernah tau bakal mengalir ke mana, laut atau bukan. Gak semua cerita happy ending -Kugy

Ini harta karunku. Duniaku. Punya kamu sekarang. Aku mau berbagi duniaku sama kamu -Kugy

Sekarang saya tau kenapa Keenan begitu terinspirasi sama Kugy. Dibanding dia, saya bukan siapa-siapa. Saya ndak bisa jadi Kugy -Luhde

Saya cuma butuh kamu, bukan yang lain. Dan hati saya sudah memilih -Keenan

Dan lebih buruk lagi,  kalo kamu bertahan disini karna satu orang -Remi

Poyan gak tau caranya melepas -Pak Wayan

Hati itu dipilih, bukan memilih -Pak Wayan

Bertahan atau melepas, bagaimana hatimu. Hatimu yang tau -Pak Wayan

Karena bersama kamu, aku tidak takut lagi jadi pemimpi. Karna hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat. Dan bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita -Kugy

Cari orang yang bisa ngasih kamu segala-galanya, apapun itu, tanpa harus kamu minta -Remi

Karna hati kamu udah ga di sini -Remi

Kalo selamanya Keenan memlih di sini sama saya, selamanya Keenan ga akan tulus -Luhde

Saya ndak mau selamanya jadi bayang-bayang -Luhde

***
Salam agen Neptunus,
Dinda :)

26/06/13

Malaikat Juga Tahu...

Di sampingmu aku berdiri,
Aku memandangmu,
Aku mendambakanmu,

Tapi mengapa kau selalu memandang ke arahnya?
Selalu tersenyum untuknya?
Selalu mendambakannya?

Tidakkah kau lihat aku?
Aku yang berdiri di sampingmu
Aku yang menjadi tempat berkeluh-kesahmu
Aku yang sakit di sini, tapi kau tak mau tahu

Kau ingin dia di sini, menggantikan aku
Tapi kau bilang, kau tak sanggup tanpa aku
Jadi, apa maumu?
Ingin menbuatku hancur karna melihat kalian berdua di depan mataku sendiri?

Tidakkah kau merasa
Akulah yang nyata
Akulah yang mencintaimu
Bukan dia
Aku harus apa agar kau melihatku?

Silakan bandingkan,
Aku dan dia
Kau akan tahu,
Akulah juaranya

Malaikat juga tahu...

***

Tulisan ini terinspirasi oleh lagu Malaikat Juga Tahu (Dewi Lestari)

Salam,
Dinda :)

18/04/13

DIY : Scrub Kopi

Hai! Mau berbagi 'resep' scrub kopi nih. Cocok banget buat kamu yang punya pipi chubby, loh! Karena katanya, kandungan kafein dalam kopi itu bisa menghancurkan lemak dibawah kulit! Tentu aja, hasilnya akan kelihatan kalo dipake secara teratur.

Okay, langsung aja.
Bahan :
- Kopi item
- Gula pasir
- Air panas

--

Cara buat:
Campurkan 1 sendok makan kopi item dengan 1-2 sendok teh gula pasir ke dalam wadah. Lalu, masukan 3 sendok teh air panas, aduk sampai rata, namun tetap bertekstur. Oiya, air panasnya bisa disesuaikan ya, pokoknya teksturnya kasar-kasar gitu.
Setelah itu diamkan kira-kira setengah jam.

--

Cara pakai:
Gampang kok! Pertama basuh wajah degan air hangat, lalu keringkan dengan handuk, dan langsung oleskan scrub di wajah dengan gerakan memutar sambil sedikit dipijat. Diamkan 15 menit-an, lalu gosok dengan waslap/handuk lembut dan bilas dengan air dingin.

Selesai! Tapi harus diaplikasikan teratur, seminggu sekali, misalnya. Oiya, jangan lupa oleskan pelembab/moisturize untuk melembabkan & menutrisi kulit kalian yg baru muncul!
Selamat mencoba :D

Salam,
Dinda :)

14/04/13

Menghitung Embun

Pagi yang sunyi dan damai. Ku buka jendela kamarku yang menghadap ke taman mungil disamping rumah. Indahnya. Semerbak wangi bunga dan bau tanah yang khas membuatku tersenyum. Andaikan aku bisa menikmati ini lebih lama. Melewati pagiku yang indah lebih lama. Bahagia sekali, ketika ku melihat bulir embun di dedaunan yang melabai pelan diterpa angin pagi. Menghitung satu persatu bulir itu. Rasanya seperti menghitung sisa umurku. Tuhan, berikan aku umur yang lebih panjang lagi, agar aku bisa terus merasakan pagi yang indah ini, dan menghitung embun pagi yang menyejukan itu.

(By: Dinda Nur Oktaviani; ditemani gerimis kecil diluar rumah. Cerita fiktif)

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES