26/08/13

Cinta Datang Terlambat - Maudy Ayunda

Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu
Dulu...

Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa cinta datang terlambat

Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dari ku pergi tinggalkanku

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu
Dulu...

Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu
Dulu...

Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat

Cinta datang terlambat

*

"Aku hanya ingkari Kata hatiku saja Tapi mengapa kini Cinta datang terlambat"

07/08/13

Another Blog

Selamat Hari Raya Idul Fitri semua! Mohon maaf bila ada yg kurang berkenan :)

Sebenernya gue mau promosiin blog gue yang lain, tapi bukan blogspot. Yap, tumblr! Di tumblr sebenernya gue lebih sering post foto. Tapi gapapa lah yaa hehe :p monggo dilihat > http://dindavia.tumblr.com

Salam,
Dinda

06/08/13

Bukan Salah Hujan



Banyak yang membenci hujan. Kata mereka, kalau hujan, mereka gak bisa kemana-mana, cuaca  jadi dingin, bikin malas beraktifitas. Dan alasan-alasan konyol lainnya. Menurutku, hujan itu indah. Hujan  itu  mengasyikkan. Aku bisa mendapat banayk inspirasi menulis  jika hujan datang. Aku suka hujan. Tapi, itu dulu tepatnya 1 tahun yang lalu.
            Aku masih ingat alasanku membenci hujan. Tepat ketika hari ulang  tahunku. Saat itu, Mama berjanji akan menjemputku dari sekolah, dan makan siang bersama di restauran favoritku, hari itu juga hari pengumuman lomba menulis cerpen yang aku ikuti. Tanpa disangka, hujan datang. Sangat deras. Aku menunggu Mama di lobby sekolah, aku mendadak gelisah. Sudah hampir 1 jam aku menunggu, tapi wajah Mama tak kunjung  terlihat. Aku berusaha tenang, tapi pikiranku melayang. Aku takut kalau-kalau  sesuatu buruk terjadi pada Mama.
            “Selamat siang, apa benar ini dengan saudari Nikita?” tiba-tiba handphoneku berdering, terdengar suara wanita di sebrang sana
            “Iya, saya sendiri. Maaf dengan siapa ya?” Tanyaku gugup
            “Saya dari Rumah Sakit Harapan. Baru saja, Ibu anda mengalami kecelakaan. Beliau tergelincir saat mengendarai motor, lalu terjatuh. Kepalanya cidera.”
            Aku tercengang dan terdiam. Dadaku sesak.
            “Mama……” Suaraku lirih.
            Rumah sakit tersebut memintaku untuk segera mendatangi rumah sakit itu. Tanpa pikir panjang, aku berlari menerobos hujan, mencari taksi untuk kutumpangi, dan berdoa untuk mama.
            Setelah sampai dirumah sakit dan menemukan ruang UGD, aku masih terus berdoa untuk mama. Tidak lama kemudian, dokter keluar dan memberitahu bahwa mama telah tiada. Aku merasa tubuhku menjadi ringan. Penglihatanku buram. Mataku memanas. Aku menangis, kemudian pingsan. Aku membenci hujan saat itu juga.
            Entah bagaimana, saat aku tersadar aku sudah di rumah, disampingku ada tante Tira yang tersenyum lembut, tapi matanya sembab. Aku bangkit.
            “Mama mana te? Mama baik-baik aja kan?”
            “Niki, kamu yang sabar ya, sayang. Kamu harus kuat. Bentar lagi Mama kamu mau dimakamkan.” Tante Tira berusaha tegar
            “Engga tante! Mama janji mau makan siang sama aku, ngerayain ulang tahun aku. mama juga janji mau beliin laptop baru kalo aku berhasil menangin lomba menulis cerpen. Gak mungkin mama ingkar janji!”
            Tante Tira memelukku, aku menangis dalam  pelukannya.
            Aku memeluk mama untuk yang terakhir kali. Aku cium pipinya, tubuhnya terasa kaku dan dingin. Belum pernah aku  merasakan dingin seperti itu. Aku mencoba ikhlas, namun tidak semudah itu.
            Aku ikut mengantarkan mama ke tempat peristirahatan terakhirnya. Selamat jalan, Mama, semoga mama tenang di sana, aku pasti akan rindu Mama.
            Sejak saat itu aku benci sekali dengan hujan. Aku juga jadi benci menulis, padahal ternyata aku memenangkan lomba menulis tersebut. Tapi aku tidak peduli. Aku benci hujan!
            Kemarin, guru bahasaku memintaku untuk mengikuti lomba menulis cerpen, beliau tahu bahwa aku suka menulis cerpen dan sering memenangkan lomba. Langsung saja kutolak. Aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan dunia itu.
            “Ayolah Niki, Ibu tahu bakat kamu dibidang menulis. Kalo kamu menang dilomba ini, kamu mendapat sertifikat dan bisa masuk di SMA manapun yang kamu mau.” Bu Reza, guru bahasaku, membujukku.
            Beliau sudah sangat sering membujukku. Aku jadi tidak tega menolakknya lagi. Kali ini aku mengiyakan permintaannya.
            Lomba itu diadakan seminggu lagi. Tema lomba itu adalah kehidupan di sekitar kita. Aku bingung ingin menulis apa.
            Setelah aku mengiyakan permintaan bu Reza, aku bergegas pulang. Aku pulang sendiri saat itu, aku menumpang angkot yang berada di depan sekolah. Saat sudah sampai di depan komplek rumahku, tiba-tiba turun hujan. Aku jadi ingat Mama.
            Saat angkot berhenti, dan aku ingin turun, tiba-tiba ada adik kecil berdiri di depan pintu angkot sambil membawa payung besar. Tubuhnya basah kuyup.
“Ojek payung kak?” tanyanya.
Entah mengapa aku mengiyakan pertanyaannya, padahal saat itu aku membawa payung di dalam tas sekolahku. Aku melihat senyumnya mengembang dan matanya berbinar.
            “Kamu gak sekolah?” aku memberanikan diri bertanya
            “Udah pulang kak” jawabnya ringan.
            “Oh, kelas berapa?” tanyaku lagi.
            “Kelas 4 kak.” Jawabnya sambil menyeka air hujan yang melewati matanya. Dia lalu menatapku.
            “Kok ngojek payung? Emang gak diomelin?”
            “Sebenernya gak boleh sama Bapak. Takut kesambar petir kaya Ibu. Tapi kalo gak ngojek payung, kasihan Bapak gak ada yang bantu cari uang,” jawabnya polos.
            “Ibu kesambar petir?” tanyaku mengulang
            “Iya, sekarang Ibu udah gak ada kak,” aku lihat, matanya berkaca-kaca. Ia lalu menunduk untuk beberapa saat. Aku jadi ingat mama. Aku dan anak itu sama-sama kehilangan orang yang disayang saat hujan turun.
            “Kalo hujan, aku jadi inget sama ibu kak. Jadi pengen nangis. Tapi kata Ibu, anak laki-laki gak boleh nagis.” Dia melanjutkan, senyumnya mengembang.
            “Kamu benar..” aku memegang pundaknya yang sudah basah oleh air hujan itu.
            “Ibu juga bilang, kita gak boleh nyalahin takdir. Makanya, waktu Ibu meninggal aku gak sedih lama-lama. Allah udah kangen sama Ibu.” Kata-kata itu bagai tamparan untukku. Aku sadar, bahwa kepergian Mama bukan karena hujan. Tapi karena takdir dari Sang Khalik.
            Tidak terasa sudah sampai di depan rumahku. Aku memberikan ongkos ojek payung kepadanya. Dia tersenyum dan mengucapkan terimakasih, lalu berlalu. Aku masih diam di teras rumah. Menatap hujan yang semakin deras. Aku jadi bersemangat untuk mengikuti lomba menulis cerpen itu. Aku tau apa yang akan kuceritakan nanti. Anak kecil si pengojek payung. Sepertinya ide yang pas. Ku tatap lagi hujan itu. Hujan memang selalu memberikan inspirasi untukku. Hujan, maafkan aku karena pernah membencimu.

*** 

Aku mau cerita sedikit tentang cerpen ini. Jadi, aku nulis cerpen ini untuk dimuat di Majalah sekolahku, Majalah Ekspresi 9. Aku nangis pas nulis bagian  Aku memeluk mama untuk yang terakhir kali. Aku cium pipinya, tubuhnya terasa kaku dan dingin. Belum pernah aku  merasakan dingin seperti itu. Aku mencoba ikhlas, namun tidak semudah itu. Aku langsung inget Mama. Naudzubillahimindzalik Ya Allah... Tapi beneran aku nangis. Perasaan langsung ga enak gitu. Besoknya pas di sekolah aku juga nangis. Malu banget nangis di sekolah >_< tapi gak bisa ditahan. Aku langsung kepikiran hal yang jelek-jelek. Ya Allah, jangan ambil orang-orang yang aku sayang dulu. Aku masih ingin bersama mereka..
Umur emang gak ada yang tau, teman-teman. So, jaga dan sayangilah orang-orang di sekitarmu, sebelum Allah memanggil mereka kembali kepadaNYA.



Salam,
Dinda :)

22/07/13

Cita (dan) Cita

"Jadi penulis itu gak ada uangnya. Gak ada masa depannya" -Mama

Jujur, waktu pertama kali gue denger itu, gue bener-bener ngerasa 'salah' memilih cita-cita. Gue sedih banget lah ya, cita-cita gue ditolak gitu. Terngiang-ngiang terus kalimat itu di otak gue. Sampai akhirnya, gue ngerasa itu tantangan buat gue. Gue harus bisa bikin Mama gue percaya kalo gue bisa! Lebih tepatnya, ngebuktiin ke Mama, kalo jadi penulis itu ada masa depannya. Ya, kalimat Mama gue itu, gue jadi motivasi.

Sebenernya waktu gue kecil, setiap ditanya soal cita-cita, gue ngejawab jadi Dokter. Cita-cita sejuta anak kecil itumah, hahaha. Ada kali 80% temen-temen SD gue yg 'cita-cita'nya jadi Dokter.

Dan sekitar kelas 3, gue nulis cerpen pertama gue. Waktu itu salah satu guru yang paling deket sama gue ultah, yaudah gue kasih aja cerpen itu buat beliau. Besoknya, beliau bilang cerpen gue bagus (Alhamdulillah). Entah itu serius atau hanya ingin bikin gue seneng doang. Tapi waktu itu, gue bangga banget! Ya, namanya juga anak kecil ya-_-
Mulai saat itu, cita-cita gue ada dua; Penulis dan Dokter.

Gue mulai sering nulis cerpen sejak saat itu. Pernah gue bawa cerpen buatan gue ke sekolah, dan teman-teman gue baca. Mereka nangis! Serius! Ada bekas air mata mereka di buku tulis, yang gue jadiin buku kumpulan cerpen karya gue.  Ceritanya emang sedih, tapi biasa aja menurut gue (sewaktu gue baca lagi ceritanya disaat umur gue sekarang). Tentang dua sahabat yang dekeeeet banget, tapi sahabat yang satunya sakit dan meninggal. Mungkin, next time bakal gue post di sini.

Waktu itu gue bener-bener yang seneng banget. Rasanya puas bisa ngeliat pembaca kebawa cerita, sampai nangis gitu. Terharu :")
Temen-temen bilang kalo gue cocok jadi penulis (aamiin) tapi itu berlebihan sih kalo menurut gue-_-
Yaa gue aamiin-in aja semua doa yang baik-baik.

Gue juga seneng banget, waktu puisi karya gue dipilih buat dibacakan saat acara pelepasan kelas 6 (saat itu gue kelas 4/5, lupa). Gue bareng Lia, temen gue yang membacakan puisi itu. Gue udah lupa isinya gimana, seinget gue tentang jasa seorang guru gitu. Saat tampil membacakan puisi buatan gue sendiri, rasanya gue bangga banget. Suara gue sampai bergetar (gue masih inget hehe) saat ngebacain. Walaupun yang dateng ke acara itu cuma keluarga dari kakak-kakak kelas gue, gue tetep ngerasa bangga :")

Gue juga histeris saat cerpen gue ada di majalah sekolah gue, Majalah Ekspresi 9. Sebenernya sih gampang buat masukin cerpen ke majalah, apa lagi gue termasuk redaksi majalah itu. Tapi teteplah ya seneng bukan main. Itu cerpen pertama gue yang dicetak di media. Dan (InsyAllah) dibaca banyak orang (siswa & guru di sekolah gue, SMPN 9 Jakarta). Oya, ada cerita di balik penulisan cerpen itu. Hmm nanti bakal gue post cerpen itu plus ceritanya :D (Update: baca cerpen gue di sini)

Sampai sekarang, cita-cita gue untuk menjadi Dokter telah 'gugur'. Gak tau juga sih, kenapa bisa gitu. Tapi menurut gue, jadi apapun nanti, entah 'ada' uangnya ataupun 'engga', tetap lakukan dengan hati, dengan sungguh-sungguh, dan ikhlas. Semua orang udah ada jalan dan rezekinya masing-masing. Dan pasti, apa yang Allah berikan untuk kita, adalah yang terbaik. Karena hanya Dia yang tau, apa yang terbaik untuk hambanya.

   Kejar dan raih cita-citamu

Calon penulis sukses,
Dinda

27/06/13

Perahu Kertas 2 Quotes

Sebelumnya aku udah pernah post quotes dari PK 1 yang super pendek hehe, bisa baca di sini. Dan kali ini mau ngepost quotes dari PK 2.
Enjoy :)

Dear, Neptunus. Taukah kamu kenapa kali ini aku mengarung perahu kertasku hingga ke tengah laut? Aku ingin perahu kertasku berlabuh. Aku sangat ingin hatiku berlabuh kemanapun itu -Kugy

Kamu udah bawa aku kabur sejauh ini loh, aku berhak tau jawabannya -Kugy

Setiap aku mau ngelukis, itu semua karna tulisan kamu. Kanvasku punya kehidupan lagi -Keenan

Kamu pernah bilang sama aku, kalo ombak suara alam yang paling merdu -Remi

Bukannya kalian berdua punya radar-radar yg bisa sama sama tau letak kalian dimana? -Noni

Dari dulu, kalo kamu cerita tentang temen kamu yang namanya Keenan itu Gy, mata kamu langsung bercahaya. Kamu tuh lebih hidup. Nyawa kamu kaya tiba-tiba nambah 2 aja -Kakaknya Kugy

Gy, ini tuh bukan dongeng, ya ini hidup. Hadapin, kamu harus berani. Berani jujur sama diri kamu sendiri, jujur sama orang yang kamu sayangin -Kakaknya Kugy

Gak semua dongeng bisa happy ending, apa lagi realitas -Kakaknya Kugy

Kugy Karmachamaleon, saya cinta, selalu cinta, dan akan terus cinta sama kamu -Keenan

Perasaan ini gak bakal ada habisnya, Gy -Keenan

KK itu Keenan dan Kugy -Keenan

Aku tau, kamu tau, hati ini jg tau, Gy, kalo kita milih yg terbaik -Keenan

Aku sakit kaya gini setiap ingat kamu -Kugy

Aku yakin kita bisa, Gy -Keenan

Aku pasrah, Nus. Seperti semua perahu kertas yg selama ini aku larung. Dia ga pernah tau bakal mengalir ke mana, laut atau bukan. Gak semua cerita happy ending -Kugy

Ini harta karunku. Duniaku. Punya kamu sekarang. Aku mau berbagi duniaku sama kamu -Kugy

Sekarang saya tau kenapa Keenan begitu terinspirasi sama Kugy. Dibanding dia, saya bukan siapa-siapa. Saya ndak bisa jadi Kugy -Luhde

Saya cuma butuh kamu, bukan yang lain. Dan hati saya sudah memilih -Keenan

Dan lebih buruk lagi,  kalo kamu bertahan disini karna satu orang -Remi

Poyan gak tau caranya melepas -Pak Wayan

Hati itu dipilih, bukan memilih -Pak Wayan

Bertahan atau melepas, bagaimana hatimu. Hatimu yang tau -Pak Wayan

Karena bersama kamu, aku tidak takut lagi jadi pemimpi. Karna hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat. Dan bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita -Kugy

Cari orang yang bisa ngasih kamu segala-galanya, apapun itu, tanpa harus kamu minta -Remi

Karna hati kamu udah ga di sini -Remi

Kalo selamanya Keenan memlih di sini sama saya, selamanya Keenan ga akan tulus -Luhde

Saya ndak mau selamanya jadi bayang-bayang -Luhde

***
Salam agen Neptunus,
Dinda :)

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES