28/08/19

Surat untuk Neptunus

Nus, selamat siang, selamat membaca suratku kembali. Apa kabar? Bagaimana cuaca di tengah laut? Cerah, terik, atau malah mendung?

Aku baik-baik saja di sini, masih sama seperti sebelumnya. Jakarta akhir-akhir ini terasa lebih dingin di malam hari. Aku harus selalu menarik selimutku hingga batas leher agar tetap terasa hangat. Malah, tak jarang aku menenggelamkan wajahku di dalam selimut. Kamu tahu, aku tidak tahan dingin, kan. Hehe, iya, aku masih secemen itu, Nus.

Nus, aku ingin mendengar bagaimana kabarmu. Bagaimana hari-harimu dalam tujuh bulan kemarin? Pasti banyak cerita yang aku lewatkan, ya! Aku rindu pada waktu kamu bercerita tentang tenangnya air laut. Kamu bilang, kamu bisa melihat penduduk Bumi bersuka cita karena bisa bermain air di bibir pantai. Aku juga rindu ketika kamu bercerita bahwa air laut sedang pasang, dan bibir pantai mulai dipasang rambu peringatan. Aku masih ingat betul dan... aku rindu mendengarnya.

Nus, aku tahu kamu sedang mengunjungi daratan, kan? Maukah mampir sebentar ke rumahku? Akan aku buatkan minuman coklat kesukaanmu. Lalu kita duduk bersebelahan hanya untuk bersyukur kepada Semesta karena telah kembali mempertemukan kita. Atau mungkin kita bisa berjalan sejauh 10km hanya untuk mengunjungi kedai taiwan dessert favoritku? Ah, aku suka boba milktea dan crispy chicken di sana!

Atau bagaimana jika kita melihat hewan laut di kawasan utara Jakarta seperti yang kita lakukan tepat satu tahun yang lalu? Aku sukaaaa sekali melihat hewan laut, karena itu memgingatkanku kepadamu, Nus. Lalu kita bisa pergi ke Monas, kamu tahu kan, Monas di malam hari sangat cantik! ❤

Tapi, Nus, satu hal yang ingin aku tanyakan, apakah aku masih boleh mengajakmu berkeliling Jakarta?


Jakarta, 26 Agustus 2019 - 11:41 am
Dinda

P.s: Balas surat ini sesegera mungkin setelah kamu membacanya ya, Nus!

24/03/19

Masa Lalu?

Kemarin abis timbil Adkesma, dan ada pertanyaan “Hal apa yang bikin kamu inget mantan?” tentu saja jawaban gue adalah “Sepanjang ruas jalan Kelapa Dua – Margonda Depok”

Setiap meternya punya kenangan masing-masing. Dia yang waktu itu tiba-tiba berhenti di seberang Gundar, terus gue disuruh tutup mata. Pas buka mata, eh tiba-tiba ada setangkai mawar, tumben banget. Dia cuma cengengesan “sekali-kali Din” gitu katanya.

Atau beberapa hari sebelum dia tes Akpol, di escalator Margo City, dia bilang “Ini main kita yang terakhir,” gue sebel banget. Apa coba maksudnya? Akhirnya setelah keluar Margo, tepat setelah muter balik di depan Detos, gue nangis. Gue nangis sepanjang jalan sambil peluk dia, tapi dia ngga tau. Gue sesedih itu karena inget kalo dia lolos Akpol berarti kta bakalan jauh. Sampe Jalan Raya Bogor baru berhenti nangisnya. Kalo dipikir-pikir, bucin banget ya gue.

Ah, kayanya panjang banget kalo harus diceritain di sini. Ini semua karena satu pertanyanyaan nyebelin di timbil Adkesma, lol.

We stand in different path now. Dan ngga pernah interaksi lagi. mungkin memang udah saatnya untuk kembali menjadi stranger. Padahal lucu juga ya, dulu kita sharing banyak hal bareng, pergi ke banyak tempat bareng, berbagi mimpi, saling menyayangi, tapi mendadak seolah ga saling kenal dan memaksa otak untuk saling melupakan.

Gue ga pernah paksa otak gue buat lupain semuanya sih, to be honest. Karena biar gimanapun, itu semua adalah hal yang membentuk gue sekarang. Gue bener-bener bersyukur atas apa yang sudah lalu, baik senang maupun sedih. Gue bersyukur menghabiskan masa putih abu-abu gue dengan dia, gue bersyukur berbagi mimpi gue tentang UI dengan dia, gue bersyukur dia pernah jadi bagian dalam hidup gue. Bagi gue pada saat itu, dia adalah my significant others, tapi entah di mata dia gue gimana.

Tapi gue lebih bersyukur atas apa yang gue punya sekarang. Gue bangga sama diri gue tetap bisa meraih goals di tengah keterpurukan pada saat itu. I’m truly blessed. Alhamdulillah.



Jakarta 17 maret 2019

11.26 pm





Please siapapun kalian, harap diingat: menulis ttg masa lalu bukan berarti lagi galau, gagal move on, atau apalah. Bisa aja ini sebagai bentuk apresiasi atas ketangguhan diri karena udah berhasil ngelewatin ujian di masa lalu, atau simply yaa kangen aja sama momentnya. Udah itu aja.

02/03/19

Men in Uniform #4: Over

Men in Uniform edisi 4. Edisi terakhir. Wow, ngga nyangka sesingkat ini. Pft.

Semesta memang lucu. Semua hal dengan mudah diobrak-abrik, termasuk hati. Hampir setahun yang lalu gue nulis soal kekecewaan gue terhadap subjek di tulisan ini. Kekecewaan yang awalnya kecil dan sering kali kami abaikan, tetapi lama-lama membesar dan mulai ngga bisa gue tolerir lagi. Semua pun berubah, baik gue pun dia. Kami menjadi dua orang yang sangat berbeda. UI dan IPDN lah yang membuat kami berbeda. Lingkungan, teman, dosen, kegiatan, kesibukan, semua memengaruhi. Kami kaya udah ga kenal lagi satu sama lain. Ya, inilah hidup. Setiap naik satu level, pasti ada yang harus berubah, biar tetap survive. Katanya.

Dia salah, pun gue juga pasti ada salah. Entahlah. Kami terus saling menyakiti untuk satu semester terakhir. Bikin gue mikir "kok gini amat sih pacaran". Gue bertahan untuk alasan klise yang gue tau itu ngga seharusnya jadi sebuah alasan. Gue menyakiti diri gue sendiri.

Ini berat buat gue, jujur aja. Ya menurut situ aja deh, putus dari hubungan yang udah menahun, mana ada yang mudah? Hahaha. Mungkin, bukan putusnya yang bikin gue hancur. Tapi proses putusnya. Gimana ngerasain dibuang layaknya sampah. Bener-bener tanpa sepatah kata penjelasan saat itu juga, pun sekedar kata "Ya". Gue benar-benar merasa rendah diri. Apa gue sebegitu ngga berharganya sampai-sampai ketika bilang putus pun dia ngga peduli? Sebegitu udah ngga sayang ya?

Gue dibilang bodoh sama orang-orang terdekat gue ketika bilang abis minta si subjek buat kasih penjelasan. Tapi, entahlah, gue kaya yakin aja dia bakal kasih penejelasan. Iya bener loh, kita akhirnya ketemu. Tapi entah kenapa gue merasa belum puas. Gue merasa masih ada yang ditutupi, gue merasa belum selesai. Masih mengganjal dan bener-bener mengganggu.

Tapi.. gue bisa apa? Yaudah. Terima aja. Berharap semesta bantu gue untuk bangkit lagi, untuk yakinin bahwa gue berharga, untuk yakinin gue bahwa ini keputusan terbaik.

Mungkin bukan tentang siapa yang salah, atau siapa yang paling tersakiti. Tapi ini tentang individu. Jarak boleh ada, tetapi ketika individunya masih ingin berjuang, tidak ada yang tidak mungkin. Pun dengan waktu, mungkin, singkatnya, ini lah waktunya untuk berpisah. Udah waktunya untuk kembali berjarak, seperti 3,5 tahun yang lalu.

Gue bahagia atas semua yang sudah lalu. Pun dengan yang membuat luka, gue bahagia. Karena semua itu yang membentuk gue sekarang. Memang belum sebegitu kuat, tapi gue hari ini jauh lebih kuat dari gue yang kemarin.

Dan,
Benar kata Mama, gue ngga boleh takut dan terpuruk karena kehilangan satu orang. Disuruh percaya aja kalau bakal dikasih ganti sama Allah. Ngga sampe satu bulan, Allah udah kasih gantinya loh. Ngga tanggung-tanggung, langsung 7 orang sekaligus! Penggantinya bukan dalam sosok pacar, tapi teman-teman yang akan mendampingi gue di kepengurusan tahun ini. Bismillah.


Ditulis di Jakarta, dalam kamar kecil gue, yang pernah dipakai si subjek sholat. Ditulis bersambung pada tanggal 17 Februari dan 3 Maret 2019.
2.26 AM

17/02/19

Takdir

Ada banyak hal yang bisa kita perjuangkan, kecuali takdir.

Lahir dari keluarga siapa, lahir sebagai anaknya siapa, lahir sebagai suku apa, lahir dengan warna kulit apa, bahkan lahir sebagai laki-laki atau perempuan juga tidak ada yang bisa memilih, kan?

Lalu, sampai pada suatu hari kamu sadar bahwa hal tersebut akan sangat berpengaruh ke dalam hidup kamu. Naif ya kedengerannya, tapi ya ini lah hidup.

Ya, kita bisa "mengubah" takdir, dengan berusaha. Tapi.. tetap, akan ada hal-hal di luar batas dan kita ngga bisa mengubahnya. Ini lah hidup.

Takdir pun yang membawa kita ke dalam lingkungan kita. Hidup di mana, siapa teman kita, seperti apa lingkungan kita, hal-hal seperti itu. Termasuk dengan siapa kita akan menghabiskan sisa hidup.

Mungkin sudah saatnya kita mencari orang yang bisa menerima kita dengan segala takdir yang mengikutinya. Orang yang tidak akan pernah membuatmu menyesal terlahir sebagai diri kamu. Orang yang membuat kamu bangga menjadi kamu. Orang yang membuat kamu merasa berharga dan bahagia.

Selamat mencari!

Jakarta, 17 Februari 2019
19.07

07/03/18

Obsesi?

pernah pada suatu hari aku membaca sebuah tulisan. isi nya kurang lebih tentang sebuah hubungan yang sebenarnya bukan lagi dilandasi oleh rasa cinta, melaikan rasa "sayang". Sayang? Iya, "sayang, ah, kalo putus, udah jalan 2 tahun nih" atau "sayang kalo putus, orang tuaku udah sreg sama dia" and so on.

aku sempat berpikir bahwa, hei, hal tersebut ngga ada apa-apanya dibanding rasa dicintai, diperjuangkan, dan yang paling penting yaitu rasa nyaman.

tulisan itu berlalu begitu saja tanpa membekas di pikiranku lama-lama.

hingga suatu hari aku tersadar, apa jangan-jangan sekarang aku sedang berada di posisi itu?

aku berpikir, apa iya?

aku mencoba melihat ke sisi lain, sisi dimana aku merasa begitu dicintai dan diperjuangkan oleh dia. lalu sisi ketika aku merasa begitu diabaikan pun muncul. silih berganti. aku merasa bukan lagi prioritasnya. bukan, bukan berarti aku ingin selalu dinomor satukan, tidak. aku mengerti bahwa ia memiliki mimpi yang harus dikejar, tanggung jawab yang harus ia jalani, keluarga yang menggunya pulang, hingga teman yang menginginkan berjumpa. pun denganku.

tapi bila seseorang masuk ke dalam prioritasmu, bukankah selalu ada waktu yang bisa diluangkan? sekadar telepon untuk 15 menit?

dia bilang aku ngga boleh cengeng cuma karena cinta. dengar aku, aku tidak cengeng! apa salah aku menangis karena merasa dikecewakan? merasa diabaikan? ketika disakiti?

kadang aku merasa bahwa, aku terobsesi. terobsesi oleh dirinya yang terkadang terlihat begitu sempurna di mataku. tapi kadang pula, aku merasa benci. mengapa aku mencintai dirinya. sebegitu besarnya.

jika ada pertanyaan dari Tuhan tentang apa yang aku inginkan, aku ingin meminta untuk berhenti terobsesi dan mencintainya begitu dalam. cukup mencintai sedikit, atau biarkan menipis setiap harinya. hingga hilang dan aku bisa lupa. berhenti dulu untuk mencintai seseorang, mungkin?


Depok, 7 maret 2018 9:59 a.m
--ditulis di sela-sela kelas MPKTB

05/02/18

Tuan N #3 : Untitled

Halo, apa kabar? Sehat selalu ya pasti. Lagi apa sekarang? Lagi belajar ya, maaf kalo aku ganggu.
Hari ini hari pertama aku masuk kuliah. Aku udah tunggu hari ini dari lama. Kenapa? Soalnya aku bosen libur terus, di rumah doang pula. Aku seneng bisa ada kegiatan lagi, jadi ngga keinget kamu terus hehe. Tadi juga ada pengumuman staff BEM fakultas loh, dan aku lolos! Yeay, so happy. Semoga dengan bertambahnya kegiatanku di semester ini, bisa bikin aku "lupa" sama kamu ya! Jadi kamu ngga lagi denger rengekan atau sekedar ucapan "aku kangen" dari aku lagi.

Tapi, rasa senengnya aku tuh belum lengkap. Aku pingin deh cerita-cerita ke kamu, pamer kalo aku berhasil lolos. Tapi barusan kamu ditelepon kok langsung dimatiin begitu aja sih? Gak seru ya teleponan sama aku? Maaf ya, kalo akhir-akhir ini aku suka marah2 di telepon :( aku cuma kangen aja sama kamu. Kangen kamu tanya-tanya, kangen diceritain ini-itu. Intinya aku kangen bisa interaksi sama kamu.

Kalo aku boleh komentar, kok rasanya akhir-akhir ini kamu --dan hubungan kita-- jadi berubah ya? Iya, aku tau manusia itu dinamis, selalu berubah setiap harinya. Tapi aku belum siap untuk perubahan kamu. Aku belum siap untuk menghadapi kamu yang "baru", kamu yang sekarang jadi lebih...... cuek? Hehe apa lah, banyak maunya ya aku! Pasti kamu kaya gini juga karena aku yg banyak nuntut ya? Maaf ya :(

Aku suka keinget deh dulu pas awal-awal pacaran. Dulu kamu cuek banget, huh sebel. Tapi kok aku bisa sabar yaa. Aku sedih deh ngga bisa sesabar dulu, gak bisa semaklum dulu. Dulu sering ditinggal ke Monas juga aku mah selow wae, tapi sekarang ga ditelepon sehari aja udah uring-uringan. Kamu tau ngga, waktu awal-awal kita LDR, aku tuh seneng banget karena kamu jadi jauh lebih perhatian, jadi lebih bisa memperlakukan aku dengan lebih baik deh, aku super happy! Ditambah pas cuti kita sering bareng-bareng yaa, wah aku seneng banget! Tapi begitu cuti selesai dan kamu balik lagi ke Nangor, aku ngerasa kamu berubah lagi :( rasanya kaya awal-awal kita pacaran dulu :( apa mungkin cuma perasaan aku aja kali ya?

Maaf ya, alay banget nulis di sini. Aku cuma pingin kamu baca dan kamu tau apa yang aku rasain. Karena aku gatau lagi harus nyampein ini lewat mana. Maunya sih lewat telepon, tapi setiap telepon pasti kamu ke-distract sama temen-temen kamu deh. Kadang aku ajak ngomong serius juga kamu nanggepinnya dengan ga semangat.

Sehat terus ya di sana, semoga selalu lancar semua kegiatan kamu. :)

Jakarta, 5 Februari 2018 | 11:24 pm

08/01/18

Tuan N #2 : Selamat Tidur, Tuan

Selamat datang, selamat kembali ke Ksatrian
Selamat kembali menjalankan hari-hari yang terjadwal rapi
Selamat kembali belajar dan mengenman amanat
Selamat kembali memasuki Menza, tiga kali sehari
Selamat kembali menyapa udara Jatinangor
Selamat kembali, selamat kembali, Tuan

Tidur yang nyenyak, berdoa, lalu bermimpi dengan indah
Jangan lupa bangun di sepertiga malam, lalu bersujud dalam keheningan, itu kan yang kau rindukan?
Jangan lupa telpon aku, maksudku kalau sempat, tenang saja aku tidak akan merengek lagi
Jangan lupa panaskan setrikaan setiap pagi, lalu menegaskan garis pakaian dinasmu

Sekali lagi,
Selamat tidur, Tuan


Jakarta, 6 Januari 2017 | 11.08 p.m
Dinda
--yang sudah rindu, padahal belum ada sehari ditinggal

12/11/17

Tuan N #1 : Men in Uniform



”Nemu senior ospek yang ganteng gak? Tenang aja, doain aja aku bisa dikukuhkan jadi Muda Praja. Kalah itu senior-senior kamu sama aku,” tulis kamu di surat dengan tanda Semarang,  29 September 2017.


Fal, satu hal yang harus kamu tau; dengan atau tanpa seragam itu, I still love you.

Mungkin ada beberapa wanita yang secara terang-terangan menunjukkan bahwa mereka mencari taruna (atau sejenisnya) untuk menjadi pendamping. Tapi aku bukan mereka. Aku mendampingi kamu karena aku suka kamu, bukan karena seragam itu.

Dulu aku bahkan ngga suka loh cowok berseragam, soalnya kesannya mereka mengekslusifkan diri, terus sok keren banget deh ke mall pake seragam segala. Ternyata emang udah aturan ya, hahaha sok tau sih aku. Tapi kemudian sekolahku ada di lingkungan militer, teman-temanku banyak yang dibesarkan di keluarga militer, bahkan aku ikut kegiatan yang agak-agak militer juga. Hidupku berubah! ((ciaaaa)). Aku kenal kamu, kita dekat, lalu pacaran. Dan kamu sekarang bagian dari cowok-cowok yang dulu aku anggap sok keren itu.

18 Oktober 2017. Kita bertemu kembali setelah 2 bulan ngga ada komunikasi apa-apa. Aku bangga….. dengan diriku sendiri wkwk. Banyak hal yang terlewat tanpa kamu Fal. Rasanya aneh ngga ada yang aku ajak ngomong sebelum tidur, ngga ada yang tanya tadi ngapain aja, ngga ada yang ngajak nonton!! Itu sih ternyebelin, karena nonton sama temen kurang asyique. Di hari itu, untuk pertama kalinya, aku melihat kamu dengan seragam coklat itu, dengan ukuran pas badan, yang udah kamu impikan sejak lama. Dan juga dengan kepala botakmu itu, haha! Aku ngerasa awkward jalan di samping kamu, kok semacam kemakan omongan sendiri gitu ya? Hahaha. Udah mana jadi banyak yang ngeliatain, ngeliatain kamu sih, aku mah mana ada yang mau ngeliatin, huft. Tapi aku seneng banget di hari itu!

Lalu besoknya kamu balik lagi ke Lembah Manglayang, rumah kamu selama 4 tahun ke depan. Tapi kali ini kamu bawa alat komunikasi, yeay, meskipun illegal sih. Kamu beberapa kali telepon aku. Kadang harus diganggu sama temen-temen kamu, katanya salam dari mereka, tradisinya begitu katamu. Waktu itu bahkan ada yang mau kenalan ya? Hahaha, kaya siapa aja sih diajak kenalan segala. Hmm, kamu tau Fal, langit kamarku dan langit kamar kamu itu saksinya, bahwa kantuk kalah jauh dibanding rindu. Ngga peduli seberapa capek dan ngantuknya aku di malam itu, kalau ada telepon dari kamu, aku pasti langsung semangat lagi!

Fal, terimakasih untuk semuanya. Untuk usaha yang kamu berikan, untuk pengorbanan yang mungkin aku ngga tau apa aja, untuk sabarnya, untuk dukungannya, untuk waktu tidur kamu yang harus berkurang karena aku mau ditelepon. Cuma kamu yang dengan senang hati dengerin aku cerita ini-itu panjang lebar, dengerin aku marah-marah, nanggepin kerecehan aku (HEHE). You worth every miles and time!
I looooooove you, Masku!



Jakarta, 12 November 2017 - 11:23 pm 

Yours

16/04/16

hm?


Salah satu kekurangan gue adalah selalu berusaha untuk memaafkan, tapi kenyataannya gue ngga (akan) bisa untuk selalu memaafkan.

Memendam adalah pilihan gue, ketika orang yang gue sayang melakukan hal yang menyakiti gue. Gue sakit, tentu saja. Tapi ngga untuk mereka tahu. Gue mau, mereka—orang-orang yang gue sayang—taunya gue fine aja dengan yang mereka lakukan. Satu alasannya, gue ngga mau memberitahukan bahwa mereka menyakiti gue, adalah karena gue ngga mau mereka merasa bersalah karena telah melukai gue. Padahal gue melupakan satu hal, bahwa dengan gue melakukan hal tersebut, sama saja seperti gue menambahkan goresan luka yang sudah mereka buat.

Terdengar naïf ya? Tapi, ya itulah gue.

Kekurangan gue yang lain adalah meledakkan semua emosi gue ketika gue sudah terlalu lelah untuk memendam. Gue langsung meledak. Laksana gunung api memuntahkan semua isi perutnya. Gue langsung kacau. Gue emosian. Gue jadi super sensitive dengan segala hal. Gue jadi cengeng. Gue jadi menutup telinga gue atas semua nasihat orang terdekat, demi memenangkan ego gue sendiri. Jujur, gue ngga mau kaya gitu. Dengan meledak, biasanya gue jadi bikin orang-orang yang gue sayang ngerasa bersalah, which is itu malah lebih menyeramkan ketimbang mereka tahu kalau mereka menyakiit gue dari awal, kan?

Gue ingin semuanya baik-baik aja. Gue ingin semua di bawah kontrol gue. Gue ingin hidup yang happy ending kaya di fairy-tale. Gue sangat realistis, tapi gue juga sangat percaya pada keajaiban. Padahal, kedua hal tersebut (sangat) bertentangan. Hal-hal itulah yang mebentuk karakter gue yang suka “yuadahlah, mungkin mereka lagi ngga in a good mood, makanya mereka nyakitin gue” and act like everything is ok and nothing happened. Dan itu salah banget.




Jakarta, 16 April 2016 – 9.06 PM

-d-

06/04/16

Hellow!

Lagi galau nih ahahaha. Lagi capek akhir-akhir ini. lagi bosen. Lagi jenuh sama semua hal. Hhhh

Hmm.. gue pengen tanya, pernah ngga sih lo kemakan omongan lo sendiri?

Gue pernah. Dan gue mau cerita.

Duluuuu banget, waktu gue belum “memilih” untuk mengenal lebih dekat secara personal lawan jenis gue, gue ngerasa kalau gue ngga akan bisa nangis karena cowok. Konyol aja gitu menurut gue. Nangis karena cowok? Gak. Gak akan. Iya, gue emang sekeras kepala itu hahaha. Karena yaa, cowok banyak kali. Ngapain pake nangisin cowok yang jelas-jelas udah nyakitin hati sih? Jadi, kalau pada saat itu ada yng curhat bahkan nangis di depan gue secara langsung karena cowok, gue akan bingung. Gue mau marah karena dia udah sia-sia buang air mata buat cowok yang udah nyakitin, tapi di sisi lain empati gue termasuk tinggi, gue gampang iba. Jadi ya antara batin dan otak gue kayak perang gitu deh, dan gue jadi bingung.

Tapi.. setelah gue mau membuka diri untuk mengenal lebih jauh para cowok ini (kaya udah “fine” ketika ada yang ngasih sinyak pdkt, dsb nya ya, bukan sekedar kenal dan berteman) gue jadi malu pernah ngomong kalau gue ngga akan nangis karena cowok. Hehehehe. Btw, gue abis nangis nih, mata guepun masih berat tapi untungnya sih ngga bengkak ya, jadi gue ga perlu takut buat keluar kamar HAHAHA.

Gue nangis barusan. Karena cowok. Karena pacar gue. Ngga, dia ngga nyakitin gue, ngga pernah malah (atau belum ya? Huft jangan deh). Tapi gue nangis karena.. karena diri gue sendiri. Gue ini super insecure dengan segala hal yang menyangkut pandangan orang terhadap gue. Gue mau selalu terlihat baik, gue mau selalu jadi anak manis, gue mau selalu perfect, gue ngga mau dinilai negative sama orang lain. Iya, gue tau gue salah, gue egois. Ngga akan ada orang yang sempurna di dunia ini. dan apalah gue, cewek jutek yang gampang banget baper ahahah pasti banyak yg ngga suka. Tapi, ya itulah gue. Si perfeksionis yang ngga mau keliatan “jelek”. Dan sifat gue itupun terbawa ke dalam hubungan gue dengan cowok gue ini. gue mau jadi cewek termanis yang dia kenal, gue mau jadi cewek termenyenangkan yang dia tau, gue mau gue adalah satu-satunya cewek yang dia lihat. Gue maunya begitu. Maka dari itu, gue sering takut berlebihan kalau suatu saat dia sadar gue ngga secantik temen-temen lesnya, gue ngga seasyik temen-temen di sekolah lamanya, dan yang paling gue takut, gue ngga sepengertian sahabat dia yang udah kenal dari zaman SD. Gue takut dia ngga liat gue lagi. gue nyiksa diri gue sendiri dengan pikiran-pikiran itu. gue bisa uring-uringan, bisa tiba-tiba ngerasa nyesek gitu ahahah, bisa nangis juga tiba-tiba. Pokoknya gue jadi super random deh.

Oh iya, gue belum pernah ngomong tentang ini ke dia. Gue ngerasa belum nemuin waktu yang tepat aja buat ngomong ini. banyak masalah yang lagi dia hadapin, dan kayanya gue egois banget deh kalau tiba-tiba ngomong panjang tentang apa yang gue rasa, belum lagi kalau pake nangis-nangisan wkwkwk. Mending dia mikirin masalah dia dulu, diselesaiin, baru gue coba cari waktu buat cerita soal apa yang gue rasa. Sstt, doain supaya gue berani ya, gue orangnya gengsian banget soalnya wkwkwk #TheTrueVirgo.

Hmm, dia bukan cowok pertama yang jadi alesan gue merelakan air mata gue turun sih, heeee. Tapi cowok yang sebelumnya, ngga sesering ini. Hm, mungkin juga karena cowok yang dulu ngga sampe jadi kali ya, jadi gue masih ngerasa gengsi buat nangisin cowok yang belum punya hubungan apa-apa sama gue hehehe.


Ok. Sekian curhat alay gak jelas ini.



Jakarta, 6 April 2016 – 10.18 PM

Masih dengan mata yang sembab,

-d-



P.s kalau kamu baca, maafin aku yang alay ini pake nulis di blog segala. Plis, jangan mikir macem-macem, kamu tau kan aku ini sukanya nulis hal-hal yang random? :b

22/03/16

Ini tentang aku, Si Pengamat Ulung. Si pemimpi yang memimpikan kamu, Si Kutu Butu, katanya.

Ini tentang kamu, laku-laki yang duduk di pojok kedai itu bersama setumpuk buku usang. Ditemani segelas kopi hitam yang sudah tidak lagi mengepul. Sesekali tangan kiri itu membenarkan posisi kacamata dengan bingkai berwarna coklat yang kamu kenakan.

Ini tentang hujan yang datang. Menyisakan embun di balik jendela kedai. Dengan suhu yang turun, menyisakan gemeletuk di antara gigi orang-orang.

Ini tentang fajar yang kembali datang menggantikan hujan yang sudah menemani semalaman. Semburat jingganya menghangatkan diriku; masih tetap di dalam kedai itu, mengamatimu.

Ini tentang waktu, ketika kamu dan aku lalu berpisah. Perpisahan kita abadi, begitu katamu. Entah apa maksudmu, aku tak paham. Aku hanya tahu, bahwa, dulu kita pernah ada, bersama. Hingga akhirnya kaca-kaca itu pecah, dan semua tak lagi sama. Kamu, Si Kutu Buku kemudian pergi dan menyisakan jejak-jejak kisah yang tak mungkin ku hapus.

Ini tentang… ah sudahlah, aku tak tahu ini tentang apa. Yang kutahu hanyalah, kau Si Kutu Buku yang betah duduk dengan setumpuk buku di pojok kedai kopi itu, dan aku, Si Pemimpi, yang betah duduk dari jauh untuk mengamatimu hingga fajar menjelang.





-d-

Jakarta, 22 Maret 2016 – 7.49 PM

15/03/16



Ketika Tuhan telah menuliskan cerita hidup umat-Nya, maka siapa yang bisa mengajukan diri untuk mengubah cerita tersebut?

Sekalipun mungkin kamu –dan aku, tidak bisa setuju dengan jalan ceritanya, Tuhan tetaplah Penulis cerita hidup terbaik di semesta.

Sekalipun aku tetap tak henti bertanya, kenapa aku yang Ia pilih untuk menjalankan peran di cerita ini. Maku belum ikhlas. Mungkin aku belum bisa terima. Apapun itu, kumohon Tuhan, buatlah aku untuk dapat menerima peran yang sudah Kau tetapkan.




-d-

Jakarta, 15 Maret 2016 – 12:08 AM

09/03/16

[Scolio’s Talk] : A Year Ago

Hallo!


Ada yang tau apa itu skoliosis? Atau pernah denger, tapi ngga ngerti apa-apa tentang skoliosis?

Mengutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia, skoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Lebih jelasnya, skoliosis itu kelainan tulang yang menyebabkan tulang belakang melengkung menyerupai huruf C atau S. Sebanyak 75%-85% kasus skoliosis adalah idiopatik (gak diketahui penyebabnya), yang salah satunya adalah aku, aku idiopatik skoliosis.

Sebenarnya, skoliosis itu bukan hal baru di hidupku. Aku pernah dapat materi tentang kelainan tulang belakang ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Seingetku, ketika SMP ada juga kok materi tentang kelainan tulang belakang ini. Tapi pada saat itu aku berpikir, emang ada ya orang yang punya kelainan kaya gitu? Lalu, sekitar kelas 8 SMP, aku secara ngga sengaja membaca sebuah novel yang menceritakan seorang gadis scolioser yang mempunyai hubungan dengan laki-laki pengidap HIV/AIDS Judul novel itu adalah Waktu Aku Sama Mika, dan novel itu juga diangkat ke layar lebar dengan judul Mika, loh! ^^

Berawal dari iseng, aku men-tweet salah satu kutipan di novel itu, dan surprisingly, kak Indi, penulis novel sekaligus tokoh di novel tersebut, me-retweet tweet aku, dan akupun mulai kepo sama akun twitter-nya. Aku akhirnya follow, dan menemukan link ke blog dia, duniakecilindi.blogspot.com. semenjak saat itu, aku jadi sering baca blogpost dia dan membaca cerita-cerita tentang skoliosis yang ia idap. Bahkan aku pernah bertemu kak Indi di acara Meet and Greet-nya. Itu untuk pertama kalinya aku datang ke acara M&G seseorang loh! Pokoknya dia inspirator buatku.

Lalu sekitar Februari tahun lalu, ada teman sekelasku yang divonis skoliosis oleh dokter. Singkatnya, ketika jam istirahat sekolah, dia cerita tentang skoliosisnya dia, termasuk ciri-ciri pengidap skoliosis. Akupun kaget, karena apa yang dia jelasin, itu sama banget sama kondisi tubuhku. Akhirnya dia anterin aku ke toilet sekolah, dan bantu cek tubuhku. Dan dia bilang kalau kemungkinan aku juga punya skoliosis. Di situ aku bener-bener kaget dan ngga paham apa maksud dia bercanda atau ngga. Akhirnya aku cerita ke orang tua ku. Papaku bilang kalau itu nggak mungkin, aku hanya capek aja karena begitu masuk SMA aku ikut kegiatan yang berhubungan sama fisik. Tapi aku tetep keukeuh untuk periksa ke dokter. Akhirnya, setelah beberapa minggu, Papaku setuju untuk periksain tulangku ke dokter.

Aku ke dokter diantar Mama. Apapun vonis dokter nanti, aku yakin, aku sudah siap. Tapi, begitu dokter jelasin hasil rontgen bahwa aku udah 35 derajat kemiringannya (termasuk skoliosis ringan menuju berat), aku ngerasa hancur. Aku nangis saat itu juga di depan dokter itu. Dunia kayak runtuh. Rasanya sakit, kecewa, marah, sedih, ngga percaya. Semua campur aduk. Mungkin kalian pikir aku ini lebay, cuma vonis kaya gitu doang kok sampe ngerasa hancur? Tapi ya itulah yang aku rasa. Mimpi buruk yang ngga pernah aku duga tiba-tiba datang.

Aku bener-bener down pada saat itu. aku ngga tau harus gimana. Bahkan, aku sempat hampir marah sama Tuhan. Aku benci tubuhku sendiri.

Aku masih ingat dengan jelas vonis dokter di tanggal 9 Maret 2015 itu, iya, tepat satu tahun yang lalu.

Kalau ditanya apa sekarang aku udah bisa terima tentang kelainan yang aku idap ini, aku ngga tau jawabannya. Mungkin iya, aku udah bisa terima, tapi ngga tau kenapa aku masih suka mendadak emosional kalau denger tentang skoliosis. Baca blogpost tentang skoliosis aja bisa bikin aku nangis nggak karuan T-T

Semenjak vonis itu, aku punya banyak pantangan yang harus aku turutin kalau ngga mau ngerasain nyeri punggung atau sesak nafas. Kayak aku ngga boleh lari, ngga boleh terlalu capek fisik, ngga boleh bawa beban berat, ngga boleh lompat. Intinya, sebisa mungkin hindari kegiatan yang menghentak tubuh.

Entah sugesti atau aku yang baru ngeh, semenjak divonis, aku jadi gampang capek dan ngos-ngosan. Aku juga jadi gampang ngerasa nyeri punggung kalau kebanyakan berdiri atau duduk. Dan yang paling nyebelin, jadi sering sesak nafas. Loh, apa hubungannya antara tulang yang bengkok dengan sesak nafas? Ada kok hubungannya, singkatnya, tulang rusuk yang berfungsi melindungi paru-paru dan jantung kita ini kan menempel di tulang belakang. Ketika tulang belakang para skolioser ini melengkung, otomatis posisi tulang rusuk ikut berubah mengikuti kelengkungan tulang belakang. Bukan tidak mungkin karena melengkung itu, tulang rusuk jadi menekan/menusuk paru-paru sehingga paru-paru jadi terhimpit dan mengurangi volume udara yang bisa ia tampung. Akibatnya, jadi bikin sesak nafas.

Dan ketika ngetik post inipun aku sambil nahan nyeri punggung…

Terus kalau lagi nyeri punggung, kamu ngapain Din biar ngga terasa?

Jawabannya adalah diemin aja. Berdoa aja biar Tuhan bikin aku lupa kalau punggungku lagi sakit, heheh. Atau tiduran, tapi kalau nyerinya di sekolah atau tempat umum kan aku ngga mungkin tiduran yaa. Ya, pokoknya berdoa aja semoga nyerinya cepet ilang. Skoliosis emang ngga ada obatnya, karena skoliosis ini bukan penyakit, tetapi kelainan. Tulang kami berbeda sama tulang milik kamu. Dan sekali Skoliosis, akan selamanya Skoliosis.

Btw, kemarin aku abis Rontgen yang ketiga kalinya, setelah tujuh bulan nungguin alatnya yang rusak, hiks. Dan besok adalah jadwal ketemu dokter, apapun yang dokter bilang besok, semoga itu yang terbaik! :D

Dan untuk kamu para Scolioser yang kebetulan baca, ada satu kalimat dari kak Indi yang berhasil bikin aku senyum lagi ketika sempat down; Don’t always blame Scoliosis. Cheer up! ^^





-d-

Jakarta, 9 Maret 2016 – 10:40 PM, ditemani nyeri punggung dan segelas Milo hangat.

07/12/15

Hujan #2


Langit kembali menumpahkan muatannya dengan sukacita
Seakan tahu ada banyak orang yang menunggunya
Agar bisa bersama-sama menumpahkan tetesan itu
Sudah masuk musim hujan, Tuan
Jangan lupakan jaketmu itu
Jangan lupa cepat berlari untuk berteduh ketika rintik mulai turun
Jangan berusaha melindungiku dengan menutup kepalaku dengan jaketmu
Aku tak apa—sungguh
Pakailah jaketmu kembali
Cukup itu, aku sudah merasa tenang
Aku tak akan tumbang hanya karena terkena gerimis sebentar saja
Namun, kalaupun aku terserang flu karena bermain hujan bersamamu,
Bukankah itu lucu?
Setidaknya, saat nanti kita memilih berjalan sendiri-sendiri
Aku pernah punya kenangan bersamamu di saat hujan turun
Sehingga aku bisa bersama dengan langit untuk menumpahkan hujan kami



Jakarta, 7 Desember 2015 -- 6:49 PM
DInda

11/11/15

Hujan

Aku ingin seperti hujan
Baunya membuat candu
Hadirnya membunuh rindu
Dan kepergiannya menyisakan embun

Memang, hujan tak selalu indah
Kedatangannya membawa gemuruh di dirgantara
Membuat orang mengutuk dan memilih meringkuk di balik selimut

Tapi hujanku ini berbeda, Tuan
Akan kubasuh hatimu yang telah lama kering
Membuat oasis di padang hatimu kembali menggenang
Membuat kau sadar betapa pentingnya aku dalam musim di hidupmu



Jakarta, 2 November 2015 – 20:30 PM

Dinda
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES